Trump: Serangan AS Hancurkan Sebagian Besar Infrastruktur Rudal Iran, Sisa 21-22 Persen

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:25 WIB
Trump: Serangan AS Hancurkan Sebagian Besar Infrastruktur Rudal Iran, Sisa 21-22 Persen
PARADAPOS.COM - Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan NBC News, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran kini hanya memiliki sekitar 21 hingga 22 persen dari total persediaan rudalnya. Trump menyebut serangkaian serangan telah menghancurkan sebagian besar pabrik drone, landasan peluncuran, dan area manufaktur rudal Iran. Pernyataan ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi gencatan senjata permanen untuk konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu. Cuplikan wawancara yang dirilis pada Jumat itu menyoroti penilaian Washington atas kapasitas militer Teheran pasca-operasi militer besar-besaran.

Penghancuran Kapasitas Produksi Militer Iran

Dalam wawancara yang akan ditayangkan secara penuh pada hari Minggu itu, Trump memberikan gambaran rinci mengenai dampak serangan terhadap infrastruktur militer Iran. Ia menegaskan bahwa operasi tersebut telah melumpuhkan kemampuan produksi negara tersebut secara signifikan. "Sebagian besar pabrik drone telah dihancurkan, sebagian besar landasan peluncuran telah dihancurkan, dan sebagian besar area manufaktur rudal telah dihancurkan," jelasnya. Meskipun demikian, Trump mengakui bahwa Iran masih memiliki sisa kapasitas tempur. "Mereka masih memiliki kapasitas. Mereka memiliki beberapa rudal, mereka memiliki beberapa drone," lanjutnya. Presiden AS kemudian merinci perbandingan kekuatan rudal Iran sebelum dan sesudah serangan. "Saya akan mengatakan secara persentase, mungkin 21-22% dari rudal mereka, itu banyak rudal, tetapi tidak seperti saat kita pertama kali menyerang," ujarnya.

Kebanggaan Nasional dan Hambatan Diplomasi

Ketika ditanya mengenai keengganan Iran untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata permanen, Trump menilai faktor psikologis dan kebanggaan nasional menjadi penghalang utama. Ia menggambarkan situasi Teheran saat ini sebagai kondisi yang mendesak namun rumit secara politis. "Mereka bangga, dan ada hal-hal yang tidak pernah mereka duga akan mereka lakukan, tetapi harus mereka lakukan. Mereka tidak punya pilihan, dan itu membutuhkan waktu," tuturnya. Pernyataan ini mencerminkan dinamika negosiasi yang alot, di mana tekanan militer belum cukup untuk mendorong kesepakatan diplomatik secara instan.

Refleksi atas Kebijakan Masa Lalu

Saat didesak mengenai kegagalannya meraih kesepakatan yang lebih baik setelah menarik diri dari perjanjian nuklir Iran pada masa jabatan pertamanya, Trump memberikan perspektif jangka panjang. Ia menekankan bahwa resolusi konflik semacam ini memerlukan waktu dan kesabaran yang tidak bisa diukur dalam siklus politik pendek. "Butuh waktu bertahun-tahun untuk melakukan hal-hal ini. Orang-orang ini telah berperang selama 47 tahun," ungkapnya. Pernyataan tersebut memberikan konteks bahwa akar permasalahan antara AS dan Iran sudah mengakar jauh sebelum pemerintahan saat ini, sehingga ekspektasi terhadap solusi cepat perlu dikelola secara realistis.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar