Iran Sebut Serangan Rudal ke Israel sebagai Tindakan Bela Diri, Tuding AS Turut Bertanggung Jawab

- Senin, 08 Juni 2026 | 09:25 WIB
Iran Sebut Serangan Rudal ke Israel sebagai Tindakan Bela Diri, Tuding AS Turut Bertanggung Jawab
PARADAPOS.COM - Kedutaan Besar Iran di Indonesia mengonfirmasi bahwa serangan rudal yang dilancarkan ke wilayah utara Israel pada Minggu malam, 7 Juni 2026, merupakan tindakan pembelaan diri. Serangan ini dipicu oleh dugaan pelanggaran gencatan senjata serta agresi Israel terhadap Lebanon dan Iran. Pernyataan resmi tersebut dirilis pada Senin, 8 Juni 2026, dan langsung memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk seruan dari Presiden AS Donald Trump agar Israel menahan diri dari serangan balasan.

Dasar Hukum dan Tuduhan Pelanggaran

Dalam pernyataan pers yang diterima redaksi, Kedubes Iran menegaskan bahwa operasi militer tersebut dilakukan berdasarkan hak inheren untuk membela diri, sebagaimana diatur dalam Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). "Iran pada Minggu malam, 7 Juni 2026, dalam pelaksanaan hak inheren untuk membela diri sebagaimana diatur dalam Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah menyerang sejumlah sasaran militer di wilayah utara Palestina yang diduduki," demikian bunyi pernyataan resmi Kedubes Iran. Teheran menuduh Israel berulang kali melanggar gencatan senjata yang disepakati pada 8 April 2026. Lebih lanjut, Iran mengklaim Israel terus melakukan tindakan agresif terhadap Lebanon dan Iran, termasuk melalui kerja sama dengan Amerika Serikat (AS) dalam serangan terhadap kapal-kapal dan sejumlah sasaran Iran dalam dua pekan terakhir.

Tanggung Jawab Amerika Serikat

Kedubes Iran juga menyoroti peran Amerika Serikat dalam eskalasi ini. Menurut mereka, gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesepakatan 8 April 2026. Oleh karena itu, Iran menuding AS turut bertanggung jawab atas berbagai dugaan pelanggaran yang dilakukan Israel. "Pemerintah Amerika Serikat memikul tanggung jawab langsung atas berbagai pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh rezim Zionis beserta segala konsekuensi yang timbul darinya, termasuk setiap eskalasi ketegangan di kawasan," tulis Kedubes Iran dalam pernyataannya.

Ancaman Respons Menghancurkan

Dalam pernyataan yang sama, Kedubes Iran menegaskan bahwa pemerintah dan rakyat Iran memiliki tekad kuat untuk mempertahankan keamanan serta kepentingan nasional. Mereka memperingatkan bahwa setiap tindakan yang dianggap sebagai provokasi atau agresi terhadap Lebanon maupun wilayah Iran akan dihadapi dengan respons tegas dari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran. Kedubes Iran menyatakan bahwa setiap tindakan agresif yang dilakukan Israel terhadap Lebanon maupun Iran akan dibalas dengan respons yang "tegas, menyeluruh, dan menghancurkan".

Kronologi Serangan Rudal

Serangan Iran terjadi pada Minggu malam, 7 Juni 2026. Militer Israel menyatakan beberapa gelombang rudal ditembakkan dari Iran menuju wilayah Israel, memicu sirene peringatan di berbagai daerah. Namun, Israel mengklaim seluruh rudal tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udaranya dan tidak menimbulkan korban jiwa. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan serangan itu menyasar Pangkalan Udara Ramat David di Israel utara. Menurut IRGC, operasi tersebut merupakan respons atas berlanjutnya serangan Israel di Lebanon selatan, khususnya di wilayah Tyre dan Nabatieh, serta dugaan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati. Iran juga memperingatkan bahwa serangan lebih luas dapat dilakukan apabila Israel kembali melancarkan aksi militer terhadap Lebanon.

Eskalasi di Lebanon dan Seruan AS

Ketegangan meningkat setelah Israel kembali menggempur kawasan Dahiyeh di Beirut selatan pada Minggu. Menurut otoritas Lebanon, serangan itu menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai 11 lainnya. Di tengah eskalasi tersebut, Presiden AS Donald Trump meminta Israel untuk tidak melakukan serangan balasan terhadap Iran. Trump menekankan bahwa kedua pihak perlu menahan diri agar konflik tidak berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar