Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Berpotensi Tahan Belanja Kelas Menengah

- Jumat, 12 Juni 2026 | 08:25 WIB
Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Berpotensi Tahan Belanja Kelas Menengah
PARADAPOS.COM - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax berpotensi memicu penundaan belanja nonprimer oleh kelas menengah. Hal ini terjadi karena porsi pengeluaran rumah tangga untuk transportasi semakin membengkak. Analisis tersebut disampaikan Rahma saat dihubungi di Jakarta pada Jumat, menyoroti dampak berantai dari kebijakan harga bahan bakar terhadap daya beli masyarakat.

Kelas Menengah Terjepit di Tengah Kenaikan Biaya Hidup

“Akan berdampak pada penundaan belanja non-esensial, seperti rumah tangga kelas menengah kemungkinan besar akan menahan atau mengurangi konsumsi pada sektor sekunder dan tersier, seperti liburan, hiburan, food and beverage atau makan di luar, atau barang elektronik,” kata Rahma saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat. Ia mengingatkan bahwa mayoritas konsumen Pertamax berasal dari kelompok masyarakat kelas menengah hingga menengah atas. Ketika harga BBM jenis ini naik, kelompok tersebut menghadapi efek pendapatan yang signifikan. Disposable income mereka menyusut karena alokasi anggaran rumah tangga untuk transportasi membengkak. Menurut penjelasannya, kebutuhan terhadap bensin cenderung bersifat inelastis dalam jangka pendek. Masyarakat tetap harus bekerja dan bermobilitas, sehingga ruang belanja untuk kebutuhan nonprimer menjadi semakin terbatas. Kondisi ini dinilai membebani kelas menengah yang tidak memperoleh bantalan fiskal sebagaimana kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin yang menerima bantuan sosial maupun bantuan langsung tunai.

Tekanan Tambahan di Tengah Stagnasi Pendapatan

Kelompok menengah, jelas Rahma, harus menyerap sepenuhnya kenaikan biaya hidup secara mandiri. Hal ini terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan atau gaji yang cenderung stagnan. Tekanan tersebut juga datang pada saat yang kurang ideal karena bertepatan dengan tahun ajaran baru, yang biasanya meningkatkan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pendidikan. Selain memengaruhi pola konsumsi rumah tangga, kenaikan harga Pertamax juga berpotensi menimbulkan efek rambatan ke sejumlah sektor usaha. Meski bukan bahan bakar utama sektor logistik barang pokok yang umumnya menggunakan solar, kenaikan harga Pertamax dinilai tetap dapat meningkatkan biaya operasional sejumlah pelaku usaha. Ia mencontohkan sektor yang mengandalkan kendaraan pribadi atau operasional berbahan bakar bensin nonsubsidi, seperti jasa kurir, pengemudi ojek daring, hingga UMKM kuliner yang menggunakan kendaraan pribadi untuk berbelanja bahan baku. Apabila kenaikan biaya operasional tersebut diteruskan kepada konsumen akhir, harga barang dan jasa di tingkat ritel berpotensi meningkat. Akibatnya, tekanan terhadap inflasi inti bertambah dan daya beli riil rumah tangga tergerus secara lebih luas.

Dampak terhadap Inflasi Masih Terbatas

Meski begitu, Rahma menilai dampak kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi umum masih relatif terbatas. “Meskipun persentase kenaikannya (harga Pertamax) masif yaitu naik sekitar 32 persen dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, efek dominonya terhadap inflasi umum tetap terkendali karena bukan kenaikan pada sektor logistik. Walaupun ada kira-kira cuma 0,1 persen saja,” kata dia. Rahma menambahkan, kenaikan harga Pertamax juga tidak serta-merta memicu lonjakan inflasi nasional secara ekstrem. Pasalnya, sektor transportasi umum dan logistik berat masih menggunakan BBM bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar. Namun demikian, ia memperkirakan inflasi pada Juni 2026 tetap berada dalam tekanan. Dinamika sektor transportasi menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong inflasi umum meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. “Proyeksi inflasi pada Juni 2026 ini berada dalam tekanan yang cukup kuat. Dinamika sektor transportasi menjadi salah satu trigger utama yang berpotensi mendorong inflasi umum (CPI) merangkak naik hingga mendekati atau bahkan menembus kisaran 4 persen secara tahunan (yoy), meningkat dari posisi Mei yang berada di level 3,08 persen (yoy),” tutur Rahma.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar