PARADAPOS.COM - Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengungkap bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berkali-kali menghasut dirinya untuk melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Pengakuan ini disampaikan Obama dalam sebuah video yang dirilis oleh New Yorker pada Senin (4/5/2026). Ia menyebut argumen yang digunakan Netanyahu saat itu identik dengan alasan yang akhirnya meyakinkan Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran pada Februari lalu. Serangan gabungan AS-Israel tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran dan memicu blokade Selat Hormuz yang mengguncang pasar energi global.
Tekanan Bertahun-Tahun yang Tak Pernah Reda
Menurut Obama, upaya Netanyahu untuk menyeret Amerika ke dalam perang melawan Iran sudah berlangsung lama, jauh sebelum era Trump. Dalam pernyataannya yang dikutip dari Middle East Monitor pada Rabu (6/5/2026), Obama menegaskan bahwa dirinya memiliki catatan panjang tentang perbedaan pendapat dengan Netanyahu.
"Saya pikir ada catatan yang cukup tentang perbedaan pendapat saya dengan Bapak Netanyahu (soal Iran)," tegas Obama.
Pengakuan ini memperkuat pernyataan mantan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry. Kerry sebelumnya menyebut Netanyahu sebagai dalang di balik layar yang tak kenal lelah mendesak para pemimpin AS—mulai dari George W. Bush, Barack Obama, hingga Joe Biden—untuk mengangkat senjata melawan Teheran.
Presentasi Empat Poin yang Selalu Ditolak
Netanyahu disebut-sebut kerap membawa proposal rinci yang dikenal sebagai 'Presentasi Empat Poin'. Dokumen itu berisi klaim bahwa serangan militer AS mampu menghancurkan struktur kepemimpinan Teheran, memicu perubahan rezim, sekaligus melumpuhkan total kekuatan militer Iran.
Namun, ambisi perang Netanyahu selalu menemui jalan buntu di meja para presiden sebelum Trump. Obama secara terbuka meragukan bahwa eskalasi militer akan membawa keuntungan bagi stabilitas AS maupun Israel dalam jangka panjang. Ia menilai risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada manfaat yang dijanjikan.
Trump Akhirnya Tunduk pada Bujukan
Dominasi pengaruh Netanyahu baru membuahkan hasil di era Donald Trump. Trump menjadi satu-satunya presiden AS yang akhirnya menerima proposal serangan tersebut. Eksekusinya terjadi pada 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel meluncurkan operasi militer brutal yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran beserta jajaran elit pertahanan Teheran.
Meski Netanyahu berhasil mencapai tujuannya, dampak yang ditimbulkan justru memicu kekacauan besar di kawasan. Keputusan Trump yang termakan hasutan Netanyahu kini dibayar mahal.
Blokade Selat Hormuz dan Krisis Global
Iran merespons serangan tersebut dengan melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta aset-aset militer AS di negara-negara Teluk. Langkah paling mematikan yang diambil Teheran adalah penutupan Selat Hormuz—urat nadi perdagangan minyak dunia.
Blokade ini telah mengguncang pasar energi global dan menciptakan krisis ekonomi yang menghantui banyak negara. Obama kini hanya bisa melihat dari jauh, saat perbedaan pendapatnya dengan Netanyahu di masa lalu terbukti menjadi peringatan yang kini menjadi kenyataan pahit bagi dunia.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Iran Mewajibkan Kapal Asing Miliki Izin Resmi untuk Melintasi Selat Hormuz
Iran Bantah Tuduhan UEA soal Serangan Rudal dan Drone, Beri Peringatan Keras
Presiden AS Remehkan Kekuatan Militer Iran dan Klaim Blokade Laut Berhasil Tekan Teheran
Kepala Angkatan Udara Israel yang Baru Siap Kerahkan Seluruh Armada Jet Tempur ke Iran Jika Diperlukan