PARADAPOS.COM - Jakarta, 16 Juni 2026 – PT Pertamina Patra Niaga akhirnya angkat bicara terkait kebingungan masyarakat atas perbedaan harga yang tercantum di struk pembelian BBM. Angka Rp18.040 per liter yang muncul pada struk Pertalite, menurut perusahaan, bukanlah harga yang harus dibayar konsumen melainkan harga keekonomian. Melalui pernyataan resmi, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa kebijakan subsidi BBM sepenuhnya berada di tangan pemerintah, sementara Pertamina hanya bertugas mendistribusikan.
Angka di Struk Bukan Harga yang Dibayar
Dalam keterangannya di Jakarta, Roberth menjelaskan bahwa informasi yang beredar mengenai angka Rp18.040 per liter di struk Pertalite perlu diluruskan. Ia menekankan bahwa angka tersebut merupakan harga keekonomian, yaitu nilai BBM jika dihitung berdasarkan biaya penyediaan energi dan harga pasar.
"Menanggapi informasi yang beredar terkait angka Rp18.040 per liter di struk pembelian Pertalite yang disebut sebagai harga keekonomian BBM, Pertamina Patra Niaga menyampaikan penjelasan agar masyarakat memperoleh informasi utuh dan tidak menimbulkan kesalahpahaman," ujar Roberth.
Pertalite sendiri masuk dalam kategori BBM jenis khusus penugasan (JBKP) yang mendapatkan subsidi dari negara. Artinya, harga yang dibayarkan masyarakat di pompa bensin sudah jauh lebih rendah dari harga keekonomiannya.
"Harga jual Pertalite yang dibayarkan masyarakat saat ini merupakan harga yang telah ditetapkan pemerintah dengan mempertimbangkan berbagai aspek sosial dan ekonomi," ungkapnya.
Fungsi Strategis Subsidi BBM
Lebih lanjut, Roberth menjelaskan bahwa program subsidi BBM memiliki peran yang sangat strategis. Bukan sekadar meringankan beban pengeluaran, subsidi ini juga berfungsi menjaga stabilitas ekonomi nasional dan melindungi daya beli masyarakat.
"Program subsidi BBM memiliki fungsi strategis untuk menjaga stabilitas nasional, melindungi daya beli masyarakat, serta menopang aktivitas ekonomi," tambahnya.
Ia menegaskan, meskipun angka keekonomian di struk terlihat tinggi, konsumen tetap membeli Pertalite dengan harga resmi yang telah ditetapkan pemerintah. Selisih harga tersebut ditanggung oleh negara melalui mekanisme subsidi.
Harga Pertamax Mengikuti Dinamika Pasar
Berbeda dengan Pertalite, BBM nonsubsidi seperti Pertamax memiliki mekanisme harga yang berbeda. Roberth menjelaskan, harga Pertamax mengikuti perkembangan harga pasar, meskipun tetap dalam koordinasi dengan pemerintah.
"Bahkan, pada periode sebelumnya, harga Pertamax sempat ditahan agar tidak mengalami kenaikan guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kondisi perekonomian nasional," jelasnya.
Penyesuaian harga Pertamax yang terjadi pada 10 Juni 2026, menurut Roberth, mempertimbangkan sejumlah faktor. Mulai dari kondisi ekonomi, daya beli masyarakat, hingga keberlanjutan fiskal pemerintah. Penyesuaian serupa, katanya, juga dilakukan oleh badan usaha penyedia BBM lainnya.
Yang menarik, Roberth mengungkapkan bahwa harga jual Pertamax saat ini pun masih belum sepenuhnya mencerminkan harga keekonomian berdasarkan harga pasar internasional.
"Apabila harga Pertamax sepenuhnya mengacu pada harga keekonomian berdasarkan kondisi pasar dan harga minyak dunia, maka harga jualnya seharusnya berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan harga Pertalite tanpa subsidi," papar dia.
Pertamina Patra Niaga pun mengimbau masyarakat untuk selalu merujuk pada informasi resmi dari pemerintah dan Pertamina. Masyarakat diminta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak disertai penjelasan utuh.
Editor: Joko Susilo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Eddy Soeparno Desak PLN Atasi Pemadaman Listrik di Jawa, Sumatra, dan Bali Akibat Krisis Pasokan Batubara
Pemerintah Tetapkan Tiga Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik sebagai Program Strategis Nasional
Pertamina Patra Niaga Berdayakan 155 Penyandang Disabilitas, Kedai Kopi Inklusif Raup Omzet Rp300 Juta
Suzuki Ingatkan Pentingnya Rack Steer, Komponen Vital Penentu Stabilitas Kemudi