Tunisia Pecat Sabri Lamouchi Usai Dibantai Swedia 1-5, Tunjuk Hervé Renard sebagai Pelatih Darurat

- Rabu, 17 Juni 2026 | 10:00 WIB
Tunisia Pecat Sabri Lamouchi Usai Dibantai Swedia 1-5, Tunjuk Hervé Renard sebagai Pelatih Darurat
PARADAPOS.COM - Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) mengambil langkah darurat dengan memecat pelatih kepala Sabri Lamouchi setelah timnas “Eagles of Carthage” dihancurkan Swedia dengan skor telak 1-5 di laga perdana Piala Dunia FIFA 2026. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Monterrey itu memicu perombakan cepat di kursi kepelatihan. Sebagai pengganti, FTF langsung menunjuk juru taktik veteran asal Prancis, Hervé Renard, yang dikenal memiliki rekam jejak mentereng di turnamen akbar. Renard diikat kontrak hingga akhir turnamen, namun ada klausul perpanjangan jika performa tim membaik. Ujian pertamanya sudah menanti: laga hidup-mati melawan Jepang pada 20 Juni mendatang di stadion yang sama.

Kekalahan Memalukan yang Memicu Perombakan

Suasana di kubu Tunisia langsung berubah drastis begitu peluit panjang berbunyi. Kekalahan 1-5 dari Swedia bukan sekadar angka di papan skor, melainkan tamparan keras bagi skuad yang sebelumnya diproyeksikan bisa bersaing di grup ini. Gol-gol yang bersarang di gawang Tunisia datang silih berganti tanpa perlawanan berarti, membuat para pemain terlihat frustrasi di lapangan. Pertandingan yang semestinya menjadi panggung pembuktian itu justru berubah menjadi mimpi buruk. Dari bangku cadangan, Lamouchi terlihat tidak mampu membendung agresivitas lini serang Swedia. Keputusan taktis yang diambilnya dianggap terlambat dan tidak efektif. Tak heran, begitu pertandingan usai, tekanan publik langsung mengarah ke kursi pelatih.

Hervé Renard: Juru Selamat yang Tak Asing

Nama Hervé Renard bukanlah wajah baru di pentas Piala Dunia. Pelatih berusia 57 tahun itu sebelumnya menorehkan kisah manis saat menukangi Arab Saudi di edisi terdahulu, di mana ia berhasil membawa timnya tampil di luar dugaan banyak pihak. Reputasinya sebagai pelatih yang kerap “membuat kejutan” menjadi alasan utama FTF bergerak cepat menunjuknya. “Kami percaya Hervé Renard adalah sosok yang tepat untuk situasi darurat seperti ini. Pengalamannya di turnamen besar dan kemampuannya membaca pertandingan sangat kami butuhkan,” demikian bunyi pernyataan resmi federasi. Renard dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan disiplin dan emosional. Ia sering kali mampu membangkitkan semangat juang pemain dalam waktu singkat. Namun, pertanyaannya kini: apakah ia punya cukup waktu untuk mengubah nasib Tunisia?

Kontrak Singkat dengan Opsi Jangka Panjang

FTF tidak main-main dalam keputusan ini. Renard diikat dengan kontrak yang berlaku hingga akhir Piala Dunia 2026. Namun, federasi juga menyisipkan klausul perpanjangan kontrak jangka panjang. Keputusan soal perpanjangan ini akan sangat bergantung pada hasil yang diraih Tunisia di sisa pertandingan. Situasi ini memberikan tekanan ganda bagi Renard. Di satu sisi, ia harus segera beradaptasi dengan skuad baru. Di sisi lain, ia juga harus membuktikan bahwa dirinya layak dipertahankan untuk proyek jangka panjang. Bukan pekerjaan mudah, mengingat waktu persiapan yang sangat terbatas.

Ujian Berat Melawan Jepang

Laga kedua melawan Jepang pada 20 Juni mendatang akan menjadi ujian pertama sekaligus penentu bagi Renard. Hanya dalam hitungan hari, ia harus meramu strategi, membangun kembali kepercayaan diri pemain, dan memperbaiki kelemahan fatal yang terlihat di laga sebelumnya. Jepang sendiri bukan lawan yang bisa diremehkan. Mereka datang dengan permainan kolektif yang rapi dan disiplin. Bagi Tunisia, laga ini adalah laga “hidup atau mati” untuk menjaga asa lolos ke babak berikutnya. Renard harus bekerja cepat, karena di sepak bola kelas dunia, waktu adalah barang mewah yang tidak pernah bisa dibeli.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar