PARADAPOS.COM - Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, untuk pertama kalinya secara resmi menyatakan dukungannya terhadap negosiasi langsung dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini dibacakan melalui media pemerintah pada Jumat, 19 Juni 2026, dan menjadi respons pertama Khamenei terhadap kesepakatan damai yang baru saja ditandatangani. Meskipun mengakui perbedaan pandangan pribadinya, ia memberikan izin setelah mendapat jaminan dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang juga menjabat sebagai ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Pernyataan Resmi dari Pemimpin Baru
Dalam pesan yang disiarkan televisi pemerintah, Khamenei menyampaikan pandangannya secara terbuka. Ia mengakui adanya perbedaan prinsip terkait nota kesepahaman yang telah disepakati.
"Pada prinsipnya, saya memiliki pandangan yang berbeda (tentang nota kesepahaman)," ujarnya sebagaimana dikutip dari berbagai media internasional.
Namun, ia kemudian memberikan lampu hijau. Alasannya, komitmen yang diberikan oleh Presiden Pezeshkian dinilai cukup kuat untuk melindungi kepentingan nasional.
"Tetapi saya memberikan izin karena komitmen yang diberikan oleh Presiden (Iran) yang terhormat, sebagai ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, atas nama dirinya sendiri dan anggota lainnya untuk melindungi hak-hak bangsa Iran dan Front Perlawanan," imbuh Khamenei dalam pernyataan yang sama.
Latar Belakang Kepemimpinan Baru
Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel di Iran pada 28 Februari lalu. Peristiwa itu memicu eskalasi konflik regional yang berlangsung selama beberapa bulan. Sejak menjabat pada Maret, Khamenei jarang tampil di depan umum, membuat pernyataan terbarunya ini menjadi sorotan.
Sikap terhadap Amerika Serikat
Dalam pesannya, Khamenei juga menyoroti sikap Presiden AS Donald Trump. Ia menyebut bahwa Trump telah menggunakan berbagai cara untuk mengamankan kesepakatan tersebut karena didorong oleh situasi yang mendesak.
"Karena putus asa," katanya menambahkan.
Khamenei menegaskan bahwa ia telah menerima jaminan dari Presiden Pezeshkian. Kesepakatan tidak akan diterima jika pihak Amerika mengajukan tuntutan yang berlebihan. Ia juga memperingatkan bahwa negosiasi tatap muka yang akan datang bukanlah bentuk penerimaan terhadap sudut pandang musuh.
"Jelas bahwa negosiasi tatap muka yang akan diadakan di masa mendatang tidak akan berarti menerima sudut pandang musuh," pungkasnya.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
4.263 Personel Gabungan Dikerahkan Amankan Aksi Unjuk Rasa di Jakarta Pusat
BI Kembali Naikkan Suku Bunga ke 5,75 Persen, Tiga Kali Penyesuaian Sepanjang 2026
Argentina Bawa 500 Kilogram Daging Sapi Premium ke Piala Dunia 2026 demi Jaga Tradisi dan Kekompakan Tim
Keberhasilan Tanam 600 Bibit Mangrove di Halmahera Utara: Tingkat Hidup 90%, Kawasan Pesisir Kao Kembali Hijau