Nokturia Bukan Sekadar Gangguan Tidur, Bisa Jadi Tanda Awal Diabetes dan Hipertensi

- Jumat, 19 Juni 2026 | 08:25 WIB
Nokturia Bukan Sekadar Gangguan Tidur, Bisa Jadi Tanda Awal Diabetes dan Hipertensi
PARADAPOS.COM - Sering terbangun di malam hari karena ingin buang air kecil kerap dianggap wajar, terutama seiring bertambahnya usia. Namun, praktisi kesehatan memperingatkan bahwa kondisi yang dikenal sebagai nokturia ini bisa menjadi sinyal awal penyakit metabolik serius, seperti diabetes dan hipertensi. Kisah Supriadi (76), seorang mantan sutradara, menjadi contoh nyata. Ia sempat mengabaikan gejala ringan hingga akhirnya diketahui kadar gula darahnya mencapai 325 mg/dL dan tekanan darahnya menyentuh 150/80 mmHg.

Nokturia Bukan Sekadar Kebiasaan Usia Tua

Dalam dunia medis, nokturia didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang terbangun lebih dari satu kali di malam hari untuk buang air kecil. Banyak pasien menganggapnya sepele, padahal gangguan tidur yang ditimbulkan bisa berdampak sistemik. Praktisi kesehatan Yohanes Kurniawan menjelaskan bahwa saat seseorang terbangun mendadak, tubuh yang seharusnya berada dalam mode istirahat justru beralih ke mode siaga. "Terjadi lonjakan hormon kortisol yang menyebabkan denyut jantung meningkat dan tensi melonjak tinggi. Jika ini terjadi terus-menerus, risiko komplikasi seperti stroke dan gagal ginjal akan meningkat tajam," ujar Yohanes. Kondisi ini, menurutnya, menciptakan siklus berbahaya. Tidur yang tidak nyenyak memicu stres fisiologis, yang pada gilirannya memperburuk tekanan darah dan metabolisme gula. Jika dibiarkan, nokturia bukan lagi sekadar gangguan tidur, melainkan penanda awal penyakit kronis yang perlu diwaspadai.

Teknologi Laser sebagai Pendukung Pola Hidup Sehat

Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kualitas darah, teknologi laser mulai dilirik sebagai alat bantu terapi. Teknologi ini dirancang untuk memproduksi sinar laser yang kini hadir dalam tiga varian warna: merah, biru, dan kuning. Jika sebelumnya hanya ada satu jenis sinar, pengembangan terbaru memungkinkan penanganan yang lebih spesifik pada penggumpalan darah di pembuluh darah. Alat ini diklaim mampu membantu mengurai penggumpalan darah yang kerap menjadi penyebab penyumbatan. Bagi penderita hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi, risiko penggumpalan darah memang lebih besar. Teknologi laser bekerja dengan menyinari area pergelangan tangan, tepat di titik akupuntur dan pembuluh nadi, sehingga aliran darah diharapkan menjadi lebih lancar.

Cara Penggunaan dan Manfaatnya

Penggunaan alat ini terbilang sederhana. Cukup dikenakan di pergelangan tangan kiri selama 15 hingga 60 menit, dua kali sehari. Sinar laser yang dipancarkan akan mengenai pembuluh darah dan membantu mengoptimalkan sel-sel darah. Kolesterol di dalam pembuluh darah disebut-sebut dapat diubah menjadi energi, sementara kekentalan darah bisa dicegah. Teknologi low-level laser ini juga direkomendasikan bagi mereka yang tidak memiliki keluhan penyakit, sebagai langkah pencegahan. Kualitas darah yang baik, menurut para pendukungnya, menjadi fondasi utama untuk hidup lebih sehat di masa mendatang. Alat ini dipakai sebagai pelengkap pola hidup sehat, bukan pengganti pengobatan medis. Bagi yang tertarik, informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui nomor call center di (021) 8082 1200 atau WhatsApp/SMS center di 0812 8686 9090. Konten kesehatan lainnya yang menginspirasi juga dapat disaksikan di program Metro TV "Go Healthy" maupun melalui kanal YouTube Go Healthy. Ingat, kualitas darah memengaruhi kualitas hidup Anda. Jadi, atasi masalahnya sejak dini, cegah komplikasinya sebelum terlambat.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar