PARADAPOS.COM - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa negaranya akan merespons dengan cepat dan keras jika diserang Iran. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan "Channel 14" pada Jumat, 19 Juni 2026. Katz juga menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukan dari zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza, serta hanya mengharapkan dukungan diplomatik dari Amerika Serikat. Sikap ini muncul di tengah ketegangan setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang bertujuan mengakhiri pertempuran di berbagai front, termasuk Lebanon.
Sikap Tegas Israel Terhadap Ancaman Iran
Dalam wawancara tersebut, Katz menyampaikan pernyataan yang tidak meninggalkan ruang tawar-menawar. “Jika Iran menyerang kami, kami akan bertindak segera dan merespons dengan kekuatan. Tidak ada yang bisa memberi tahu kami apa yang harus dilakukan, dan kami telah membuktikannya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Israel memiliki seluruh kemampuan yang diperlukan untuk merespons ancaman, baik secara langsung maupun pada waktu yang dianggap tepat. Pernyataan ini seolah menjadi sinyal bahwa Tel Aviv tidak akan gentar menghadapi tekanan eksternal.
Katz juga menyinggung soal kemandirian militer Israel. “Kami tidak pernah meminta Amerika Serikat untuk berperang bersama kami melawan Hizbullah di Lebanon, unsur-unsur jihadis di Suriah, maupun Hamas di Gaza. Kami melakukannya sendiri,” tuturnya.
Menurut Katz, yang diharapkan dari Washington hanyalah dukungan diplomatik untuk mempertahankan hak Israel dalam menghadapi berbagai ancaman di kawasan. Ia juga menegaskan bahwa Israel tidak akan meninggalkan zona keamanan yang saat ini dikuasai di Lebanon, Suriah, maupun Jalur Gaza dalam keadaan apa pun.
Kritik Tajam dari Wakil Presiden AS
Pernyataan keras Katz ini muncul hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman. Kesepakatan itu bertujuan mengakhiri pertempuran di seluruh front, termasuk di Lebanon. Namun, sejumlah pejabat Israel justru mengkritik kesepakatan tersebut dan menyatakan tidak akan mengikuti ketentuannya.
Sikap itu memicu respons keras dari Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. Berbicara di Gedung Putih pada Kamis, Vance mengecam sejumlah anggota kabinet Israel yang menyerang kesepakatan antara Washington dan Teheran.
“Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di seluruh dunia,” kata Vance.
Ia juga menyebut beberapa anggota pemerintahan Israel telah “secara pribadi menyerang Presiden Amerika Serikat.” Pernyataan ini menunjukkan keretakan diplomatik yang mulai terlihat antara kedua sekutu lama tersebut.
Dampak Kesepakatan dan Realitas di Lapangan
Mediator dari Pakistan sebelumnya mengumumkan bahwa memorandum tersebut telah resmi berlaku. Berdasarkan kesepakatan itu, Iran akan mulai membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional. Sementara itu, Amerika Serikat secara bertahap mencabut blokade laut terhadap Iran.
Namun, di lapangan, situasi masih jauh dari kata damai. Serangan Israel di Lebanon masih terus berlanjut setelah tengah malam, meskipun kesepakatan AS-Iran dilaporkan mencakup ketentuan untuk mengakhiri permusuhan di Lebanon.
Menurut data resmi terbaru, ofensif militer Israel di Lebanon sejak 2 Maret telah menewaskan 3.912 orang, melukai 11.873 lainnya, dan menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi. Angka-angka ini menggambarkan betapa beratnya dampak konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Gibran Ajak Lima Mahasiswa dalam Kunjungan Kerja ke Ende, Gorontalo, dan Papua
Remaja 15 Tahun Tewas Dibakar Ibu Tirinya di Jayapura
Polri: Kurir Fredy Pratama Angkut Rp1 Miliar Per Bulan ke Thailand Selama 7 Tahun
174 Kasus Suspek Flu Singapura di Bandung Barat, Dinkes Terkendala Alat Uji