PB SEMMI: Sosialisme Islam Tjokroaminoto Relevan Jadi Perekat Bangsa di Tengah Polarisasi Sosial

- Sabtu, 20 Juni 2026 | 00:25 WIB
PB SEMMI: Sosialisme Islam Tjokroaminoto Relevan Jadi Perekat Bangsa di Tengah Polarisasi Sosial
PARADAPOS.COM - Di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang kian cepat, Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI, Muhammad Senanatha, menilai pemikiran Sosialisme Islam warisan H.O.S. Tjokroaminoto masih relevan sebagai fondasi menjaga keutuhan bangsa. Dalam keterangan pers yang diterima pada Jumat, 19 Juni 2026, ia menekankan bahwa kemajuan sejati tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga dari kemampuan masyarakat menjaga solidaritas dan persatuan di tengah keberagaman.

Relevansi Sosialisme Islam di Era Modern

Menurut Senanatha, Sosialisme Islam yang diperjuangkan Tjokroaminoto memiliki perbedaan mendasar dengan konsep sosialisme Barat. Gagasan ini bertumpu pada ajaran Islam yang menempatkan seluruh manusia dalam kedudukan setara di hadapan Allah SWT. Dari situlah lahir semangat persaudaraan, gotong royong, dan tanggung jawab bersama untuk membangun kehidupan yang adil dan sejahtera. Dalam buku "Islam dan Sosialisme", Tjokroaminoto memaparkan bahwa Islam telah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjunjung tinggi keadilan sosial sejak awal. Nabi Muhammad SAW sendiri disebut telah membangun tatanan masyarakat yang menghapus diskriminasi berdasarkan suku, keturunan, maupun status sosial. Bagi SEMMI, nilai-nilai tersebut bukan sekadar catatan sejarah perjuangan. Lebih dari itu, semua itu harus terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Kaderisasi sebagai Instrumen Perubahan

Sebagai organisasi yang lahir dari rahim perjuangan Syarikat Islam, SEMMI memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan mengembangkan nilai persamaan, persaudaraan, dan persatuan. Senanatha menjelaskan bahwa kaderisasi menjadi instrumen penting dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial yang tinggi. "Oleh karena itu, kaderisasi yang dilakukan SEMMI harus mampu melahirkan generasi muda yang berilmu, berintegritas, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Kader SEMMI harus hadir sebagai pelopor perubahan yang memperjuangkan keadilan sosial, mempererat persaudaraan, dan menjaga keutuhan bangsa di tengah berbagai tantangan zaman," ungkapnya. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Sosialisme Islam warisan Tjokroaminoto dapat menjadi jawaban atas persoalan kontemporer. Polarisasi sosial dan kesenjangan ekonomi yang masih terjadi di berbagai daerah, menurutnya, bisa diatasi dengan semangat persamaan dan persaudaraan.

Semangat Persatuan di Tengah Fragmentasi Sosial

Ketika masyarakat semakin terfragmentasi oleh kepentingan kelompok, semangat persamaan dan persaudaraan dinilai mampu menjadi perekat kohesi nasional. Sementara dalam menghadapi ketimpangan ekonomi, prinsip keadilan sosial dalam Islam dapat menjadi landasan pembangunan yang lebih berpihak kepada kepentingan rakyat. Karena itu, SEMMI mendorong generasi muda untuk kembali menggali pemikiran para pendiri bangsa yang berakar pada nilai-nilai Islam dan keindonesiaan. "SEMMI meyakini bahwa persamaan, persaudaraan, dan persatuan merupakan modal utama dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut, generasi muda Indonesia akan mampu menghadapi tantangan masa depan sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Senanatha. Bagi SEMMI, warisan pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto bukan sekadar bagian dari sejarah. Lebih dari itu, ia menjadi panduan moral yang tetap relevan untuk membangun Indonesia yang maju, adil, dan bermartabat di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar