PARADAPOS.COM - Harga emas kembali tertekan pada perdagangan Asia, Jumat 19 Juni 2026, dan berada dalam jalur penurunan mingguan ketiga secara beruntun. Kondisi ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat serta sikap hawkish Federal Reserve yang mengalahkan sentimen positif dari kesepakatan gencatan senjata sementara antara Washington dan Teheran. Sepanjang pekan ini, logam mulia diperkirakan akan kehilangan sekitar dua persen nilainya.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Investing.com, harga emas spot tercatat ambles 1,8 persen ke level USD4.134,86 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun lebih dalam lagi, yakni 2,2 persen, menjadi USD4.152,25 per ons.
Tekanan dari Sikap Agresif The Fed
Awal pekan lalu, emas sempat melesat tajam berkat optimisme pasar terhadap prospek perdamaian AS-Iran. Namun, euforia itu sirna begitu saja setelah pertemuan kebijakan Federal Reserve baru-baru ini. Sembilan dari 19 pejabat pembuat kebijakan The Fed memperkirakan setidaknya akan ada satu kenaikan suku bunga sebelum tahun ini berakhir. Ekspektasi ini memperkuat keyakinan bahwa biaya pinjaman akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Pada Rabu lalu, The Fed memang memutuskan untuk menahan suku bunga. Namun, pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, ditafsirkan oleh para pelaku pasar sebagai nada yang sangat agresif. Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) melonjak dan mendorong dolar AS ke level terkuatnya dalam lebih dari setahun.
Indeks Dolar AS nyaris tidak bergerak selama sesi Asia pada Jumat, setelah sehari sebelumnya melesat 0,8 persen—menyentuh posisi tertinggi sejak Mei 2025. Penguatan dolar jelas menjadi pukulan telak bagi emas. Logam mulia yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pembeli dari luar negeri. Di sisi lain, suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Pasar berjangka saat ini sudah memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga di akhir tahun mencapai lebih dari 80 persen.
Optimisme Gencatan Senjata Mulai Meredup
Kelemahan harga emas kian diperparah oleh kabar dari Swiss. Pemerintah setempat mengumumkan bahwa pembicaraan lanjutan untuk mencapai kesepakatan final guna mengakhiri konflik di Timur Tengah batal digelar pada Jumat. Wakil Presiden AS, J.D. Vance, dilaporkan menangguhkan rencana perundingan di Jenewa. Langkah ini memicu keraguan di kalangan analis mengenai daya tahan perjanjian sementara yang baru saja diumumkan.
"Perjanjian tersebut diharapkan dapat memfasilitasi pembukaan kembali pelayaran melalui Selat Hormuz dan telah memicu penurunan tajam harga minyak minggu ini," demikian pernyataan resmi yang dikutip dari laporan pasar.
Harga minyak sendiri mulai pulih pada hari Jumat, kembali memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi yang berkepanjangan.
Di antara logam mulia lainnya, harga perak turun 2,5 persen menjadi USD64,09 per ons. Sementara itu, platinum melemah 1,4 persen ke level USD1.674,51 per ons. Untuk logam industri, kontrak berjangka tembaga acuan di London Metal Exchange (LME) turun 0,9 persen menjadi USD13.582,33 per ton, sedangkan kontrak berjangka tembaga AS turun satu persen menjadi USD6,30 per pon.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
KPK Lacak Aset Tanah 10.000 Meter Persegi Milik Bupati Pekalongan Nonaktif Fadia Arafiq
Iran Peringatkan AS agar Israel Tak Gagalkan Perdamaian di Timur Tengah
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat Disertai Angin Kencang untuk Sejumlah Kota Besar
Pemerintah Kaji Formula Baru dan Lobi Kuota Tambahan untuk Percepat Masa Tunggu Haji yang Capai 26 Tahun