Airlangga Hartarto: Dampak Perdamaian AS-Iran ke Ekonomi Global Tak Instan, Harga Minyak dan Inflasi Jadi Fokus

- Selasa, 23 Juni 2026 | 18:50 WIB
Airlangga Hartarto: Dampak Perdamaian AS-Iran ke Ekonomi Global Tak Instan, Harga Minyak dan Inflasi Jadi Fokus
PARADAPOS.COM - Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menguraikan potensi dampak perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia, dalam sebuah paparan yang menyoroti rantai pasok dan tekanan harga energi. Menurutnya, resolusi konflik di kawasan Timur Tengah itu dapat memperbaiki distribusi barang global dan meredam lonjakan harga komoditas yang selama ini dipicu ketegangan geopolitik. Namun, efek positif tersebut diperkirakan tidak akan terasa secara instan, mengingat masih adanya fase ketidakpastian dalam kontrak dagang dan logistik internasional. Bagi Indonesia, dampak paling nyata dari situasi ini akan tercermin pada harga minyak, laju inflasi, serta sikap pelaku investasi yang masih cenderung wait and see. Pemerintah pun saat ini tengah memantau pergerakan pasar keuangan, termasuk kondisi Bursa Efek Indonesia yang masih dikategorikan sebagai Emerging Market oleh Morgan Stanley Capital International. Dinamika aliran modal asing dan kebijakan short selling juga menjadi perhatian serius dalam pembahasan tersebut. Stabilitas Harga dan Daya Beli Masyarakat Di tengah ketidakpastian global, pemerintah menekankan pentingnya penguatan daya beli masyarakat. Langkah konkret yang ditempuh meliputi penyaluran bantuan sosial dan stabilisasi harga pangan di dalam negeri. Sementara itu, dari sisi moneter, Bank Indonesia terus mengarahkan kebijakannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui penyesuaian suku bunga yang hati-hati dan terukur. Posisi ASEAN dan Aksesi OECD Di tingkat kawasan, ASEAN dinilai masih menjadi wilayah yang relatif stabil dan menarik bagi arus investasi global. Hal ini menjadi modal berharga di tengah gejolak ekonomi dunia. Lebih jauh, proses aksesi Indonesia menuju Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) terus berjalan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi tawar dan kredibilitas ekonomi Indonesia di panggung internasional.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar