Harga Emas Diperkirakan Masih Tertekan, Berpotensi Koreksi ke Level USD4.060

- Rabu, 24 Juni 2026 | 04:25 WIB
Harga Emas Diperkirakan Masih Tertekan, Berpotensi Koreksi ke Level USD4.060
PARADAPOS.COM - Harga emas diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026, dengan potensi koreksi lanjutan menuju area support yang lebih rendah. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengungkapkan bahwa kombinasi faktor teknikal dan fundamental masih mendukung pelemahan harga dalam jangka pendek. Secara teknikal, emas belum menunjukkan tanda pembalikan arah yang kuat pada grafik harian, sementara dari sisi fundamental, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah turut menekan permintaan. Pelaku pasar kini mencermati rilis data ekonomi AS yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Tekanan Teknikal Masih Dominan

Geraldo menjelaskan, struktur pergerakan harga saat ini masih menunjukkan kecenderungan bearish. Selama belum ada sinyal pembalikan yang jelas, peluang pelemahan masih cukup besar. "Struktur pergerakan harga saat ini masih menunjukkan kecenderungan bearish. Selama belum ada sinyal pembalikan yang jelas, peluang pelemahan masih cukup besar," ujar Geraldo dikutip dari analisis harian, Rabu, 24 Juni 2026. Ia menambahkan, area support di level USD4.060 per troy ons menjadi titik perhatian pelaku pasar dalam jangka pendek. Jika tekanan jual berlanjut, level tersebut berpotensi menjadi area uji berikutnya. Apabila level USD4.060 per troy ons berhasil ditembus, tekanan jual dinilai dapat berlanjut lebih dalam dengan target lanjutan di kisaran USD4.023 per troy ons. Indikator Stochastic juga menunjukkan pelemahan dengan arah turun menuju area oversold. Kondisi ini menandakan momentum penurunan masih berlangsung, meski potensi rebound teknikal tetap terbuka. Namun demikian, konfirmasi tambahan masih diperlukan untuk memastikan adanya perubahan arah tren.

Dolar AS dan Imbal Hasil Tekan Harga Emas

Dari sisi fundamental, harga emas turut mendapat tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga menekan permintaan. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury Yield turut menjadi sentimen negatif. Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas cenderung kurang diminati saat investor dapat memperoleh return lebih tinggi dari instrumen berbasis dolar. Pelaku pasar kini mencermati rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve. Jika data inflasi, ketenagakerjaan, dan aktivitas ekonomi menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka lebih lama dapat meningkat. Kondisi ini biasanya memberikan dukungan tambahan bagi dolar AS dan menekan harga emas. Sebaliknya, pelemahan data ekonomi dapat membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter dan menjadi sentimen positif bagi emas.

Risiko Geopolitik Masih Jadi Penopang

Meski tekanan dominan masih berasal dari faktor makroekonomi, risiko ketidakpastian global tetap menjadi faktor yang dapat menopang harga emas. Ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, serta volatilitas pasar keuangan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Dalam kondisi ketidakpastian, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman untuk menjaga nilai portofolio. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai harga emas masih berada dalam tekanan dengan tren bearish yang belum menunjukkan pembalikan yang signifikan. Selama belum muncul sinyal perubahan arah yang kuat, pelemahan menuju area USD4.060 per troy ons hingga USD4.023 per troy ons masih menjadi skenario yang paling mungkin terjadi. "Pelaku pasar disarankan untuk mencermati perkembangan data ekonomi AS dan dinamika global yang dapat memengaruhi arah pergerakan emas dalam jangka pendek," kata Geraldo mengingatkan.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar