PARADAPOS.COM - Di tengah sorotan publik terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia, fenomena ganjil justru terjadi: sebagian koruptor di negeri ini bukannya diasingkan, melainkan diantar pulang dengan sambutan meriah. Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang, Jawa Tengah, ribuan pendukung Bupati nonaktif Pati, Sudewo, memadati halaman pengadilan saat sidang digelar. Mereka berteriak lantang mendukung terdakwa yang dijerat dua dakwaan korupsi, mulai dari dugaan suap di Kementerian Perhubungan hingga pemerasan calon perangkat desa. Tak hanya itu, di Tenggarong, Kalimantan Timur, mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari, yang telah bebas dari hukuman 10 tahun penjara atas kasus gratifikasi Rp110 miliar, disambut bak pahlawan dengan peluk cium dan gema takbir. Ironi ini menggambarkan betapa korupsi dianggap bukan lagi aib, melainkan sekadar jeda karier.
Absurditas di Ruang Sidang: Pesakitan Jadi Selebritas
Pemandangan di Pengadilan Tipikor Semarang beberapa waktu lalu menyuguhkan babak baru yang sulit dicerna nalar. Eksepsi Sudewo telah ditolak, dan tuntutan pembebasannya kandas. Namun, para pendukungnya justru bereaksi marah. Suasana memanas saat petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dipersekusi di lokasi sidang.
Lebih ganjil lagi, Sudewo diberi kesempatan berpidato dan berorasi di hadapan massa. Sidang hukum yang seharusnya sakral berubah menjadi panggung politik. Pesakitan mendadak bertransformasi bak selebritas yang disambut fanatisme buta. Seolah-olah, dewi keadilan Themis yang matanya tertutup itu bukan sedang bersikap netral, melainkan sengaja menutup mata agar tak melihat kenyataan yang terlalu memalukan.
Sambutan Meriah untuk Mantan Koruptor
Di sudut lain negeri, tepatnya di Tenggarong, Kalimantan Timur, Rita Widyasari pulang ke kampung halamannya pada pertengahan Juni lalu. Meski berstatus eks terpidana korupsi, ia masih bisa merasakan kehangatan dan penghormatan dari sebagian warga. Rita pulang disambut antusias, meriah. Peluk cium dan tangisan haru mengiringi setiap langkahnya.
“Allahu Akbar,” terdengar takbir menggema di tengah kerumunan. Entah sejak kapan kalimat suci itu dipinjam untuk mengiringi kepulangan pelaku korupsi. Seolah-olah penjara telah mengubah status terpidana menjadi seorang pejuang.
Korupsi Bukan Lagi Aib, Hanya Jeda Karier
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: kenapa korupsi tak pernah benar-benar mati di negara ini? Jawabannya mungkin sederhana. Koruptor tak pernah dianggap sebagai musuh bersama. Mereka justru dipeluk, dielu-elukan, bahkan dianggap pahlawan.
Korupsi kiranya bukan lagi aib. Ia hanya jeda karier. Begitu pintu penjara terbuka, terbuka pula pintu politik. Partai-partai tak canggung menggelar karpet merah. Bekas koruptor direkrut kembali, dipinang lagi, bahkan sebagai petinggi. Mereka diusung kembali, dipoles kembali. Yang mengherankan, rakyat pun memilih mereka kembali. Barangkali kita satu-satunya bangsa yang mampu mengubah catatan kriminal menjadi pengalaman kepemimpinan.
Dukungan Massa untuk Tersangka Korupsi
Mungkin kita memang memiliki bakat luar biasa dalam memaafkan dan melupakan, tapi minim nalar dalam belajar. Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, ketika diperiksa KPK sebagai tersangka kasus korupsi alokasi kuota haji tambahan, juga mendapat dukungan massa. Soal salah atau tidak, biar pengadilan yang memutuskan. Namun, mendukung orang yang diduga korupsi, siapa pun pelakunya, sungguh sulit dimengerti.
Belakangan ini, publik juga disuguhi adegan seorang mantan koruptor berpose bersama mantan Presiden Jokowi di Lampung. Saat itu, Jokowi bersafari politik sekaligus menerima gelar adat. Meski Jokowi belum tentu tahu latar belakang mereka yang sepanggung dengannya, di mata publik, gambar terkadang memiliki kehidupan tersendiri. Ia melahirkan tafsir, bahkan legitimasi.
Logika Moral yang Jungkir Balik
Dalam hal ini, koruptor rupanya tidak pernah betul-betul kesepian. Mereka selalu ada yang menyambut, selalu ada yang membela, yang menganggap mereka sebagai korban. Logika Republik dalam hal ini jungkir balik. Barangkali kita memang sedang hidup di negeri dengan definisi moral terbalik. Di sini, penghormatan lebih mudah diberikan kepada pelaku ketimbang rasa iba kepada jutaan rakyat yang haknya dirampas korupsi.
Padahal, korupsi bukan sekadar urusan uang. Korupsi ialah jembatan yang tidak selesai dibangun. Korupsi ialah sekolah yang temboknya rapuh, atapnya bocor. Korupsi ialah puskesmas yang kekurangan obat. Korupsi ialah pajak yang terus disasarkan ke rakyat. Korupsi ialah anak-anak yang kehilangan masa depan lantaran uang mereka rembes ke kantong orang lain.
Akan tetapi, yang mendapat sorak-sorai justru orang yang ikut merampas hak mereka. Yang dibela, yang dielu-elukan, mereka yang membuat rakyat sengsara. Kita selalu menyerukan korupsi sebagai extraordinary crime. Sayangnya, perlakuan kita terhadap korupsi malah extraordinary privilege. Kalau ada yang bilang bahwa komedi terdahsyat saat ini ialah orang miskin membela orang kaya yang menjadi penyebab mereka miskin, kiranya benar adanya.
Selama koruptor masih banjir puja puji, masih banyak penggemar, disediakan panggung, diberi mikrofon, dipilih kembali, dan diperlakukan seperti korban, jangan harap korupsi akan pergi dari negara ini. Itu disebabkan korupsi tidak hanya hidup di dalam rekening. Ia bersemi di dalam tepuk tangan. Sungguh membagongkan.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kecelakaan Beruntun di Akses Suramadu: Bus Tabrak Avanza dan Motor, Dua Pengendara Suami-Istri Tewas
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik, UBS 1 Gram Melonjak Rp37 Ribu
Wakil Ketua Komisi V DPR Desak Pemerintah Segera Terbitkan Aturan Teknis Skema Pendapatan Ojol 92:8
Portugal Kalahkan Kroasia 2-1, Pastikan Tiket ke 16 Besar Piala Dunia 2026