PARADAPOS.COM - Pagi di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, tak pernah benar-benar sunyi. Suara lesung kayu yang ditumbuk bergantian menjadi alarm alami bagi warga sekaligus sambutan merdu bagi wisatawan yang datang. Di desa berarsitektur khas Osing ini, tradisi bukan sekadar nostalgia, melainkan denyut nadi ekonomi yang terus menggerakkan kesejahteraan. Sejak 2024, melalui program Desa Sejahtera Astra, sebanyak 300 warga telah merasakan dampak langsung dari perpaduan antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi. Hasilnya, pendapatan rata-rata anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) meningkat 33 persen, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan, dengan 50 homestay, 40 pelaku usaha lokal, dan pengakuan di tingkat ASEAN.
Lesung Kayu, Gandrung, dan Ekonomi yang Tumbuh
Masyarakat Osing di Kemiren memang dikenal teguh memegang warisan leluhur. Mulai dari upacara adat Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, tarian Gandrung yang gemulai, hingga kuliner dan musik tradisional—semua itu bukan hanya tontonan, melainkan modal utama pariwisata. Arsitektur khas Osing yang mendominasi setiap sudut desa pun menjadi identitas yang sulit ditiru. Potensi inilah yang kemudian digarap secara sistematis oleh Astra bersama penggerak lokal sejak tahun lalu. Empat bidang utama digerakkan: kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Idenya sederhana namun strategis: budaya lestari, hidup pun sejahtera.
Saat ini, desa tersebut telah menjelma menjadi ekosistem wisata yang cukup matang. Tercatat ada 40 anggota Pokdarwis yang aktif mengelola destinasi, 40 pelaku UMKM di bidang kuliner, kerajinan, dan kopi, serta puluhan homestay yang tersebar di rumah-rumah warga. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukanlah beban, melainkan justru membuka lapangan kerja baru di tingkat desa.
Empat Pilar Penguatan: Dari Posyandu hingga Biogas
Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, menegaskan komitmen perusahaan dalam pendekatan holistik.
"Desa Sejahtera Astra Kemiren menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pembangunan masyarakat dapat berjalan beriringan. Melalui penguatan pada bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan, Astra percaya bahwa warisan budaya Osing tidak hanya tetap lestari, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat melalui peningkatan kualitas hidup, peluang usaha, dan kesejahteraan yang berkelanjutan," ujarnya, Kamis (2/7/2026).
Di sektor kesehatan, intervensi dilakukan dengan memperkuat layanan Posyandu, menyediakan sarana kesehatan dasar, serta memberi perhatian khusus pada kesehatan ibu dan anak. Edukasi kesehatan rutin digelar agar masyarakat tak hanya sehat secara fisik, tapi juga sadar akan pentingnya pola hidup bersih.
Sementara di bidang pendidikan, perhatian difokuskan pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sarana belajar dan alat permainan edukatif disediakan. Yang tak kalah penting, muatan budaya lokal mulai diperkenalkan sejak dini. Generasi penerus diajak mengenal tari Gandrung dan filosofi Barong Ider Bumi, agar mereka tumbuh dengan kebanggaan terhadap identitasnya sendiri.
Pengelolaan lingkungan juga menjadi perhatian serius. Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, volume sampah pun ikut bertambah. Masyarakat didampingi untuk mengelola sampah organik dan non-organik. Limbah ternak diubah menjadi pupuk organik dan biogas. Kelompok sadar lingkungan dibentuk, dan fasilitas pengolahan kompos pun disediakan. Semua ini dilakukan agar desa tetap asri dan nyaman dikunjungi.
Dari Homestay ke Panggung ASEAN
Pada bidang kewirausahaan, pengembangan tak hanya berhenti pada penyediaan homestay. Kapasitas Pokdarwis terus ditingkatkan melalui pelatihan. UMKM lokal diperkuat, dari sisi produksi hingga pemasaran. Promosi wisata budaya Osing pun gencar dilakukan, menjadikan desa ini bukan sekadar tempat singgah, melainkan destinasi yang ingin dijelajahi lebih lama.
Konsistensi warga dalam menjaga tradisi dan mengelola potensi desa ternyata menuai pengakuan. Sejak 2019, Desa Kemiren telah mengantongi sejumlah penghargaan bergengsi: Wonderful Indonesia Impact, Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), dan yang terbaru, ASEAN Tourism Award 2025. Tak hanya itu, desa ini juga terpilih dalam The Best Tourism Village Upgrade Program 2025, sebuah program pengembangan desa wisata terbaik di tingkat global. Pengakuan ini menempatkan Kemiren sejajar dengan destinasi budaya berbasis masyarakat dari negara-negara lain.
Buah Naga yang Tembus Pasar Hong Kong
Masih di wilayah Banyuwangi, program pemberdayaan Astra juga menyasar sektor agribisnis. Di Desa Sumbermulyo, Yayasan Dharma Bhakti Astra membina kelompok tani buah naga. Pendampingan dilakukan bersama Pusat Pengembangan UMKM (PPU), mencakup penguatan organisasi kelompok, pelatihan budidaya organik, perbaikan kualitas pascapanen, hingga fasilitasi akses pemasaran dan pembiayaan.
Hasilnya cukup mencengangkan. Para petani berhasil mendapatkan sertifikasi Budidaya Organik. Total panen melonjak dari 316 ton pada 2021 menjadi 595 ton pada 2025. Omzet kelompok tani pun meroket dari Rp1,9 miliar menjadi Rp11,9 miliar dalam periode yang sama. Produk mereka kini tak hanya memenuhi pasar lokal, tapi juga menembus ekspor ke Singapura dan Hong Kong, baik dalam bentuk buah segar maupun olahan seperti sale dan buah naga dehydrated.
Semangat kolaborasi antara Astra dan masyarakat di Desa Kemiren dan Sumbermulyo ini sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Changan Pilih Teknologi REEV, Beda Strategi dari Chery dan BYD di Pasar Mobil Listrik
Polda Metro Selidiki Video Viral Motor Patwal RI 21 yang Memepet Mobil Warga di Senayan
Polda Metro Tetapkan Empat Tersangka Kasus Penyerobotan Lahan KAI di Tanah Abang
Polisi Bekuk Dua Residivis Dukun Pengganda Uang di Mojokerto, Korban Rugi Rp22 Juta