Muhaimin Iskandar Targetkan Kemandirian Pangan Nasional Lewat Program Desa Berdaya, Gandeng PTN sebagai Motor Inovasi

- Kamis, 02 Juli 2026 | 12:25 WIB
Muhaimin Iskandar Targetkan Kemandirian Pangan Nasional Lewat Program Desa Berdaya, Gandeng PTN sebagai Motor Inovasi
PARADAPOS.COM - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menargetkan kemandirian pangan nasional melalui program Desa Berdaya. Target itu disampaikan usai ia mengisi acara di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo pada Kamis, 2 Juli 2026. Untuk merealisasikannya, pemerintah menggandeng berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi negeri (PTN), agar program berjalan optimal.

Tiga Pilar Kemandirian Pangan

Dalam paparannya, Muhaimin merinci tiga aspek utama yang harus dibenahi. Pertama, politik pangan nasional mesti diubah haluan. Ia menekankan pentingnya menghentikan ketergantungan pada impor, terutama terigu. “Kemandirian pangan ini ada tiga, yang pertama di tingkat makronya politik pangan nasional harus diubah dengan satu tagline tidak lagi bergantung pangan impor apapun, terutama hentikan ketergantungan pada terigu impor. Kita bikin sendiri yang bisa lebih mandiri,” bebernya di hadapan sivitas akademika. Kedua, kemandirian pangan harus didukung oleh politik anggaran yang berpihak. Anggaran, menurutnya, perlu diarahkan untuk melahirkan inovator-inovator pangan berbasis lokal. Ketiga, ia siap menjalin kerja sama konkret dengan PTN, termasuk UNS, untuk mengejar target tersebut.

UNS sebagai Motor Inovasi Desa

Muhaimin melihat universitas memiliki peran strategis sebagai pusat riset sekaligus jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan lapangan. Ia optimistis UNS mampu menjadi katalis perubahan bagi masyarakat desa. “Kami siap mengumpulkan seluruh inovator, seluruh praktisi, seluruh pelaku yang mulai dari yang perintis sampai yang paling sukses bisa terjadi kolaborasi. Kita berkeyakinan UNS ini bisa menjadi universitas yang mengkayakan kaum desa, warga masyarakat desa, terutama bisa mewujudkan satu kemandirian pangan sekaligus membuat kaya di tanah kita sendiri,” tegasnya. Suasana di kampus tampak antusias. Sejumlah dosen dan mahasiswa yang hadir mencatat poin-poin penting dari arahan menteri, terutama soal hilirisasi riset.

Riset dan Penelitian sebagai Tulang Punggung

Kolaborasi dengan PTN, lanjut Muhaimin, akan difokuskan pada riset dan penelitian. Produk serta inovasi yang lahir dari laboratorium kampus diharapkan mampu menjadi sumber kemandirian pangan yang aplikatif. “Saya berharap UNS dan perguruan tinggi manapun, ayo riset, riset, riset, ayo penelitian, penelitian, penelitian, kasih tahu mana kita push untuk bisa menjadi sumber kemandirian pangan sekaligus inovasi yang bisa melahirkan pangan yang berdaulat di tanah sendiri,” ungkapnya. Ia tidak ingin riset hanya berhenti di jurnal akademik. Menurutnya, temuan harus segera diuji dan diterapkan di tengah masyarakat.

Target Cepat dan Dukungan Investor

Mengenai tenggat waktu, Muhaimin menargetkan realisasi kemandirian pangan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Ia sadar bahwa kecepatan sangat bergantung pada ketersediaan inovasi dan kesiapan produksi massal. “Ya semaksimal mungkin secepat-cepatnya bergantung kepada apa temuan dan inovasi kita. Harus kita tumbuhkan produksi-produksi pangan lokal misalnya tepung Mocaf. Saya siapkan carikan investor berapapun asal bisa segera massal,” ujarnya. Pernyataan itu menggambarkan urgensi yang dirasakan pemerintah. Di tengah tekanan global terhadap rantai pasok pangan, langkah konkret seperti substitusi terigu dengan tepung lokal dinilai sebagai salah satu solusi jangka pendek yang realistis.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar