Webinar Diaspora dan Akademisi Bahas Mitigasi Banjir Aceh: Integrasi Sains, Tata Kelola Lingkungan, dan Kearifan Lokal

- Jumat, 03 Juli 2026 | 01:50 WIB
Webinar Diaspora dan Akademisi Bahas Mitigasi Banjir Aceh: Integrasi Sains, Tata Kelola Lingkungan, dan Kearifan Lokal
PARADAPOS.COM - Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada penghujung tahun 2025 menjadi alarm keras. Peristiwa ini menegaskan bahwa strategi pengurangan risiko bencana tidak bisa lagi hanya bertumpu pada respons cepat saat darurat. Pendekatan yang lebih holistik mutlak diperlukan, mulai dari pengelolaan lingkungan hidup, pemanfaatan data ilmiah, hingga revitalisasi kearifan lokal. Semangat inilah yang menjadi benang merah dalam Webinar Internasional bertajuk “Pembelajaran Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Aceh: Strategi Mitigasi Berbasis Pengelolaan Lingkungan Global dan Kearifan Lokal.” Acara yang digelar secara virtual ini menghadirkan perspektif global dan lokal secara bersamaan.

Diaspora sebagai Jembatan Pengetahuan

Webinar tersebut merupakan hasil kolaborasi Indonesian Diaspora Network (IDN) Global, Diaspora Global Aceh (DGA), Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Jakarta, dan Ikatan Alumni Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (ILUNI SIL UI). President IDN Global, Nathalia Widjaja, menekankan bahwa diaspora Indonesia memegang peran strategis. Menurutnya, mereka tidak sekadar menjadi jembatan diplomatik, melainkan juga agen transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. “Diaspora tidak hanya dapat berkontribusi melalui jejaring internasional, tetapi juga melalui transfer ilmu pengetahuan, teknologi, pengalaman profesional, dan praktik-praktik terbaik yang diperoleh dari berbagai negara,” ujar Nathalia dalam keterangan pers yang diterima, Kamis, 2 Juli 2026. Ia menambahkan bahwa dukungan untuk kegiatan ini juga datang dari Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, serta Pemerintah Kota Subulussalam. Webinar ini pun menjadi bagian dari rangkaian menuju Focus Group Discussion (FGD) Ketahanan Pangan, Energi, dan Air yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Juli 2026.

Pemulihan Bukan Sekadar Rekonstruksi Fisik

Ketua ILUNI Sekolah Ilmu Lingkungan UI, Andre Noto Hamijoyo, menyampaikan pandangan yang tegas. Menurutnya, fase pemulihan pascabencana jangan sampai hanya dimaknai sebagai proses membangun kembali infrastruktur yang rusak. Justru, momen ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan memperbaiki tata kelola lingkungan. Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, organisasi profesi, masyarakat, dan diaspora merupakan fondasi penting. Hanya dengan sinergi lintas sektor, solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko bencana dapat tercipta secara efektif. Diskusi yang dipandu Fachruddin Tukuboya mengajak peserta untuk melihat bencana dari kacamata yang lebih luas. Ia memaparkan bahwa banjir dan longsor jarang berdiri sendiri. Peristiwa ini merupakan akumulasi dari perubahan tata guna lahan, degradasi hutan, hingga renggangnya hubungan manusia dengan alam. Oleh karena itu, strategi mitigasi harus mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan nilai-nilai budaya yang masih hidup di masyarakat.

Paradigma Baru dan Perspektif Global

Ketua Umum DPP Diaspora Global Aceh, Mustafa Abubakar, mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun paradigma baru. Ia menilai kekayaan sumber daya alam Aceh harus dikelola secara bertanggung jawab. Kuncinya ada pada penguatan tata kelola lingkungan, penegakan hukum, serta pelibatan masyarakat dan lembaga adat. “Diaspora Aceh siap menjadi mitra strategis pemerintah melalui pengembangan riset, jejaring internasional, dan transfer pengetahuan,” ungkapnya. Perspektif internasional pun turut memperkaya diskusi. Galih Dinanta, kandidat doktor di McGill University, Kanada, berbagi pengalaman negeri Maple Leaf dalam mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa hutan berfungsi sebagai infrastruktur alami yang menjaga keseimbangan tata air dan meningkatkan ketahanan wilayah terhadap perubahan iklim. Sementara itu, M. Arif Syahrijal, Kepala Kajian Mineral Industri dan Pertambangan Rakyat/Skala Kecil PERHAPI, memaparkan praktik pertambangan yang baik. Menurutnya, prinsip Good Mining Practice memungkinkan aktivitas pertambangan berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan, melalui reklamasi, rehabilitasi lahan, dan pemberdayaan masyarakat.

Kearifan Lokal dan Kesiapsiagaan Teknis

Dari Selandia Baru, Vice President Human Capital IDN Global sekaligus Sekretaris Jenderal Diaspora Global Aceh, Surya Darma, memperkenalkan konsep kaitiakitanga. Filosofi masyarakat Maori ini menempatkan manusia sebagai penjaga alam, bukan penguasa. “Pendekatan ini relevan diterapkan di Indonesia melalui penguatan partisipasi masyarakat, penghormatan terhadap budaya lokal, serta penegakan hukum,” jelasnya. Dari sisi teknis, Mundzir Basri, Technical Director Hydrogeology Modeling AtkinsRéalis, menekankan pentingnya analisis akar penyebab bencana. Ia merekomendasikan penggunaan pemodelan hidrologi, analisis daerah aliran sungai, dan data curah hujan sebagai dasar pengambilan kebijakan. “Investasi pada riset dan data adalah langkah strategis untuk menghasilkan solusi mitigasi yang lebih efektif dalam jangka panjang,” tuturnya. President Director Jakarta Rescue Training Centre, Yudosubroto, mengingatkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi kunci. Pelatihan relawan, simulasi evakuasi, dan koordinasi antarlembaga dinilai mampu memperkecil risiko korban jiwa saat bencana datang. Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), Yusri Yusuf, menutup sesi dengan menegaskan bahwa Aceh memiliki warisan kearifan lokal yang terbukti ampuh. Lembaga adat seperti Panglima Uteun, Panglima Laot, dan Keujruen Blang selama ini menjaga keseimbangan lingkungan. “Penguatan kelembagaan adat layak menjadi bagian dari strategi mitigasi nasional,” ujarnya. Melalui kolaborasi lintas sektor dan lintas negara ini, para peserta berharap upaya mitigasi bencana di Indonesia ke depan akan semakin mengedepankan keseimbangan antara ilmu pengetahuan, tata kelola lingkungan, dan nilai-nilai budaya lokal sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar