PARADAPOS.COM - Serangan rudal dan drone Rusia yang menghantam kawasan pemukiman di pusat Kota Kyiv pada Rabu malam hingga Kamis dini hari telah menewaskan sedikitnya 27 orang dan melukai 91 lainnya. Otoritas Ukraina memastikan akan membalas serangan yang disebut sebagai salah satu yang terbesar terhadap ibu kota ini. Presiden Volodymyr Zelensky telah meninjau langsung lokasi kehancuran, sementara komunitas internasional, termasuk Uni Eropa dan PBB, bereaksi dengan kecaman dan usulan sanksi baru.
Korban Berjatuhan di Kawasan Pemukiman
Ledakan mulai bergema sejak Rabu malam dan berlangsung hingga Kamis dini hari. Rudal dan drone Rusia menghujani daerah pemukiman di pusat kota Kyiv, menghancurkan sejumlah gedung apartemen. Kepala administrasi militer kota, Tymur Tkachenko, mengonfirmasi angka korban terbaru: 27 orang tewas dan 91 lainnya mengalami luka-luka.
Suasana di lokasi kejadian menggambarkan kengerian yang nyata. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Ia menggambarkan peristiwa itu sebagai "serangan paling besar musuh terhadap ibu kota".
Janji Balasan dari Presiden Zelensky
Di tengah puing-puing bangunan yang masih berasap, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky muncul untuk meninjau sebuah blok apartemen yang sebagian hancur. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa pasukannya "pasti" akan membalas serangan semalam. Pernyataan tegas ini disampaikan langsung di lokasi yang masih menunjukkan bekas-bekas kehancuran.
Selain janji balasan, Zelensky juga mendesak Amerika Serikat untuk memberikan lisensi produksi rudal pertahanan udara Patriot. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat pertahanan udara Ukraina yang terus diuji oleh serangan bertubi-tubi.
Reaksi Internasional dan Kecaman PBB
Diplomat tertinggi Uni Eropa tidak tinggal diam. Mereka mengusulkan sanksi baru terhadap Moskow sebagai respons atas eskalasi serangan ini. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk keras serangan Rusia dan kembali menyerukan gencatan senjata.
Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, menyampaikan pernyataan resmi yang menohok.
"Serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil di mana pun terjadi merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional dan harus segera dihentikan," ujarnya.
Sikap Rusia dan Eskalasi Sebelumnya
Di sisi lain, Rusia justru bersumpah untuk meningkatkan "tekanan" lebih lanjut terhadap Kyiv. Retorika tanpa kompromi ini menunjukkan bahwa Moskow belum berniat meredakan ketegangan.
Sebelum rentetan serangan terbaru ini, otoritas Ukraina melaporkan bahwa serangan rudal dan drone Rusia sebelumnya telah menewaskan sedikitnya 13 orang di ibu kota. Wali Kota Vitali Klitschko, melalui media sosial, mengonfirmasi angka tersebut dan menambahkan bahwa 86 orang lainnya terluka.
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Zelensky memperingatkan bahwa Moskow sedang mempersiapkan "serangan besar-besaran". Peringatan itu kini terbukti menjadi kenyataan yang pahit.
Rusia secara rutin meluncurkan rudal dan drone ke kota-kota Ukraina, termasuk Kyiv, selama invasi yang telah berlangsung lebih dari empat tahun. Perang ini telah menjadi konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II, meninggalkan luka mendalam di setiap sudut kota yang menjadi sasaran.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Wakil Ketua Komisi V DPR Desak Pemerintah Segera Terbitkan Aturan Teknis Skema Pendapatan Ojol 92:8
Portugal Kalahkan Kroasia 2-1, Pastikan Tiket ke 16 Besar Piala Dunia 2026
Webinar Diaspora dan Akademisi Bahas Mitigasi Banjir Aceh: Integrasi Sains, Tata Kelola Lingkungan, dan Kearifan Lokal
PLN dan Polisi Bongkar Tambang Bitcoin Ilegal di Ruko Tambun Selatan, 12 Server Diamankan