Ratusan Ribu Warga Iran Padati Pemakaman Ayatollah Khamenei, Trump Klaim Hancurkan Iran dan Tunda Negosiasi

- Minggu, 05 Juli 2026 | 16:25 WIB
Ratusan Ribu Warga Iran Padati Pemakaman Ayatollah Khamenei, Trump Klaim Hancurkan Iran dan Tunda Negosiasi
PARADAPOS.COM - Ratusan ribu warga Iran memadati Kota Teheran untuk mengikuti rangkaian upacara pemakaman pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara pada Februari lalu. Prosesi penghormatan terakhir berlangsung di area Grand Mosalla, di mana jenazah almarhum disemayamkan dalam peti kaca yang diselimuti bendera Iran. Pemerintah setempat bahkan membuka lebih dari 5.000 sekolah untuk menampung jutaan pelayat yang datang dari berbagai penjuru negeri. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah menghancurkan Iran dan menunda sementara negosiasi damai sebagai bentuk penghormatan terhadap masa berkabung nasional ini.

Gelombang Duka di Grand Mosalla

Suasana haru menyelimuti area Grand Mosalla di Teheran sejak pagi. Ribuan pelayat terus berdatangan, membentuk lautan manusia yang bergerak perlahan menuju peti jenazah. Di antara kerumunan itu, tampak sejumlah pejabat tinggi Iran turut hadir memberikan penghormatan terakhir. Para pelayat datang dari berbagai kota, ada yang menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk bisa melihat langsung pemimpin yang telah memimpin Iran selama puluhan tahun. Pemerintah Iran bergerak cepat mengantisipasi lonjakan jumlah pelayat. Lebih dari 5.000 sekolah di sekitar Teheran dialihfungsikan menjadi tempat penampungan sementara. Langkah ini diambil untuk memastikan para pelayat yang datang dari luar kota memiliki tempat beristirahat di tengah padatnya acara pemakaman yang berlangsung selama beberapa hari.

Kehadiran Pejabat dan Keluarga

Pada hari kedua upacara, para pejabat senior Iran kembali terlihat hadir di lokasi pemakaman. Beberapa putra Khamenei juga turut serta dalam prosesi tersebut. Namun, satu nama yang mencolok karena ketidakhadirannya adalah Ayatollah Mojtaba Khamenei, putra almarhum yang baru saja ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran. "Sejumlah putra Khamenei, juga turut menghadiri pemakaman. Namun, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei absen dalam pemakaman," ujar seorang sumber di lingkungan pemerintahan Iran. Mojtaba diduga masih dalam masa pemulihan akibat luka yang dideritanya saat serangan udara yang menewaskan ayahnya pada Februari lalu. Kondisi kesehatannya menjadi perhatian publik, mengingat ia kini memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di tengah situasi politik yang genting.

Reaksi dari Washington

Di seberang samudra, Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan yang mengejutkan banyak pihak. Dalam pidatonya di peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, Trump mengklaim bahwa negaranya telah berhasil menghancurkan Iran. Pernyataan ini langsung menuai reaksi beragam dari kalangan diplomat dan analis internasional. Lebih lanjut, Trump mengumumkan bahwa AS menunda sementara proses negosiasi dengan Iran. "Trump juga bilang bahwa AS menunda sementara proses negosiasi dengan Iran, demi menghormati rangkaian prosesi pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei," jelasnya dalam pidato tersebut. Menurut rencana, pembicaraan damai dengan Teheran akan dilanjutkan kembali setelah masa berkabung nasional berakhir. Keputusan ini dianggap sebagai langkah diplomatis yang jarang terjadi, mengingat ketegangan yang selama ini membayangi hubungan kedua negara.

Suasana di Lapangan

Dari pantauan di lokasi, prosesi pemakaman berlangsung dengan tertib meskipun dihadiri oleh jutaan orang. Peti jenazah Khamenei yang terbungkus bendera Iran menjadi pusat perhatian. Para pelayat terlihat khusyuk, beberapa di antaranya tak kuasa menahan tangis saat peti tersebut diusung melewati kerumunan. Area Grand Mosalla yang biasanya lengang, kini berubah menjadi lautan manusia. Suara lantunan doa dan ratapan bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer duka yang mendalam. Para relawan dan petugas keamanan bekerja keras mengatur arus pelayat agar prosesi berjalan lancar.

Dampak Politik dan Diplomasi

Kepergian Khamenei meninggalkan kekosongan kepemimpinan yang tidak mudah diisi. Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai penerus langsung menimbulkan spekulasi tentang arah kebijakan Iran ke depan. Apalagi, kondisi kesehatan pemimpin baru tersebut masih belum stabil pasca serangan udara. Di sisi lain, pernyataan Trump tentang kehancuran Iran dan penundaan negosiasi damai menambah ketidakpastian hubungan bilateral kedua negara. Para pengamat menilai bahwa masa berkabung ini bisa menjadi momen kritis bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar