PARADAPOS.COM - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah memberitahu Israel mengenai rencana pengiriman puluhan pesawat pengisian bahan bakar tambahan ke negara tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan eskalasi operasi militer terhadap Iran, demikian dilaporkan Axios pada Jumat (17/7) dengan mengutip tiga pejabat AS dan Israel. Rencana ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, yang baru-baru ini memanas kembali setelah periode singkat gencatan senjata.
Detail Pengerahan Pesawat Tanker
Menurut laporan Axios, saat ini terdapat sekitar 60 pesawat tanker militer AS yang sudah berada di Israel. Separuh dari jumlah tersebut, sekitar 30 pesawat, ditempatkan di Bandar Udara Internasional Ben Gurion, dekat Tel Aviv. Sementara itu, 30 pesawat lainnya berada di Bandar Udara Ramon yang terletak di wilayah selatan Israel.
Pemerintah AS dilaporkan telah meminta Israel untuk menyetujui penambahan jumlah pesawat tanker ini. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan Kepala Otoritas Israel, Benjamin Netanyahu. Situasi ini menimbulkan dinamika tersendiri di tingkat pengambilan keputusan di Israel.
Perdebatan di Internal Israel
Di tengah proses persetujuan, muncul usulan dari Kepala Otoritas Perhubungan Israel, Miri Regev, yang menginginkan pengurangan jumlah pesawat tanker AS di Bandar Udara Ben Gurion. Namun, usulan tersebut mendapat penolakan keras dari Otoritas Pertahanan Israel dan Angkatan Pertahanan Israel (IDF).
Militer AS sendiri lebih memilih menggunakan Bandar Udara Ben Gurion karena dinilai sebagai lokasi yang lebih aman bagi operasional pesawat mereka dibandingkan pangkalan udara lain di kawasan. Kondisi ini memicu perdebatan internal di Israel, mengingat pesawat-pesawat AS kini menempati sebagian besar area bandara. Axios juga melaporkan bahwa kedatangan pesawat tambahan berpotensi memicu pembatalan massal penerbangan sipil, terutama jika terjadi pada puncak musim liburan.
Eskalasi Konflik yang Berlarut
Ketegangan antara AS dan Iran sebenarnya sempat mereda. Pada 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman yang mengatur penghentian konflik yang dimulai pada 28 Februari. Namun, situasi kembali memanas sejak 8 Juli, ketika militer AS melancarkan sejumlah gelombang serangan terhadap Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan itu merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Blokade dan Penutupan Selat Hormuz
Pada Minggu, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai bentuk protes, dan menyatakan bahwa jalur tersebut akan tetap ditutup hingga AS menghentikan campur tangan di kawasan. Pengumuman ini muncul setelah kembali terjadi saling serang antara kedua pihak.
Sehari kemudian, Presiden Trump menyatakan bahwa AS akan menjadi "penjaga" Selat Hormuz. Ia juga mengatakan Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pernyataan tegas ini menandakan bahwa konflik antara kedua negara masih jauh dari kata usai, dan pengerahan pesawat tanker tambahan ke Israel menjadi salah satu indikasi keseriusan persiapan militer AS.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Polisi Bongkar Pabrik Narkotika Etomidate di Rumah Mewah PIK, WNA Singapura Jadi Koki
Kejagung Periksa Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Sebagai Tersangka Korupsi dan TPPU
Hotel Kapsul Modern Berbasis Teknologi Digital Resmi Beroperasi di Kawasan Bandara Soekarno-Hatta
Mantan Jampidsus Febrie Diperiksa sebagai Tersangka Kasus Korupsi dan TPPU Asabri, Kejagung Tak Lakukan Penahanan