PARADAPOS.COM - Rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia diwarnai dengan gelaran seni kontemporer berupa Kecak Glow di Baywalk Mal Pluit, Jakarta Utara, pada Selasa, 18 Agustus 2026. Pertunjukan ini memadukan tarian tradisional Bali dengan teknologi lampu LED, menyuguhkan pengalaman visual baru di kawasan waterfront Teluk Jakarta. Inisiatif ini digagas oleh Baywalk Mal bersama para seniman Jakarta sebagai upaya mengenalkan budaya Nusantara di ruang publik modern.
Suasana sore itu terasa berbeda di pelataran Baywalk Mal. Alunan musik gamelan yang khas berpadu dengan riuh rendah pengunjung yang mulai memenuhi area pertunjukan. Begitu lampu mulai diredupkan, puluhan penari pria dengan tubuh setengah telanjang memasuki panggung, dihiasi garis-garis cahaya LED yang menyala terang di tengah gelapnya panggung. Gerakan kompak mereka membentuk pola melingkar, mengiringi kisah epik Ramayana yang dibawakan dengan penuh penghayatan.
Inovasi Seni Tradisional di Ruang Modern
Kecak Glow bukan sekadar tarian biasa. Pertunjukan ini merupakan hasil kolaborasi antara seni klasik Bali dengan konsep panggung modern yang mengandalkan permainan cahaya. Penonton yang hadir tampak antusias, sesekali terdengar decak kagum ketika formasi lampu berubah mengikuti alur cerita. Pemandangan Teluk Jakarta yang membentang di belakang panggung semakin menambah kesan dramatis pertunjukan malam itu.
Tarian kecak sendiri dikenal sebagai seni pertunjukan yang mengangkat epos Ramayana, sebuah kisah yang sarat akan nilai kesetiaan, keberanian, dan keyakinan bahwa kebaikan akan selalu mengalahkan keburukan. Dengan sentuhan teknologi pencahayaan, nilai-nilai luhur tersebut dikemas ulang agar lebih dekat dengan generasi masa kini tanpa menghilangkan esensi aslinya.
Apresiasi dari Sang Dalang
Di balik kemeriahan panggung, sosok Wayan Surija tampak sibuk mengatur jalannya pertunjukan. Pria yang berperan sebagai dalang dalam Kecak Glow ini mengungkapkan rasa syukurnya atas sambutan hangat masyarakat Jakarta.
"Kecak Glow ini adalah suatu seni budaya dari Bali, yang sudah berada di luar Bali, yang menjadikan suatu ikon dari kecak ini adalah diambil dari kitab Ramayana. Ini adalah inovasi dan inovatif dari teman-teman kita seniman yang ada di Jakarta untuk daya tarik masyarakat, untuk berpartisipasi atau menonton pertunjukan kecak itu sendiri," jelasnya dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV.
Menurut pengamatannya, kehadiran Kecak Glow di tengah pusat perbelanjaan modern menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tidak pernah kehilangan relevansinya. Justru dengan kemasan yang lebih segar, seni budaya mampu menarik minat lintas generasi.
Menghidupkan Budaya di Tengah Kota
Gelaran Kecak Glow merupakan bagian dari rangkaian acara bertajuk Raya Budaya yang diselenggarakan Baywalk Mal. Inisiatif ini lahir dari keprihatinan akan semakin tergerusnya ruang apresiasi seni tradisional di ibu kota. Dengan menghadirkan pertunjukan semacam ini, pihak pengelola berharap dapat memberikan alternatif hiburan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik.
Pemilihan lokasi di kawasan waterfront juga bukan tanpa alasan. Suasana terbuka dengan latar laut diharapkan mampu memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung, jauh dari kesan kaku yang sering melekat pada pertunjukan seni klasik. Anak-anak muda yang biasanya akrab dengan hiburan digital pun terlihat duduk tenang menyaksikan jalannya cerita.
Lebih dari sekadar tontonan, Kecak Glow menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya Indonesia adalah aset yang hidup dan terus berkembang. Selama ada ruang untuk berinovasi dan apresiasi dari masyarakat, tradisi akan selalu menemukan caranya untuk bertahan di tengah perubahan zaman.
Artikel Terkait
Guru ASN di Takalar Diciduk Polisi Usai Diduga Rekam Mahasiswi KKN di Toilet Sekolah
Baznas dan BKKBN Luncurkan Program ZCD untuk Tekan Stunting dan Dorong Kemandirian Ekonomi Keluarga
Pengacara Pelapor: Mustahil Pemilik Rumah Tak Tahu Brankas Berisi Emas 74 Kg di Sentul
Kejagung Periksa Empat Saksi Kementerian Kehutanan untuk Usut Legalitas Kayu Bahan Baku Ekspor Pulp PT TPL