PARADAPOS.COM - Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat transisi energi demi mencapai kedaulatan energi nasional. Langkah ini merupakan respons langsung atas dinamika geopolitik global yang turut memengaruhi fluktuasi harga minyak dunia. Dalam sambutannya di acara Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2026, Bahlil mengungkapkan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk mencari terobosan alternatif guna memperkuat kemandirian energi. "Atas dasar pemikiran itu, Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami untuk segera mencari terobosan-terobosan alternatif dalam rangka mendorong kedaulatan energi kita," ujarnya di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026. Target Ambisius dalam RUPTL 2025-2035 Pemerintah tidak main-main dalam menyusun peta jalan energi bersih. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025-2035, terdapat target yang cukup berani: porsi energi baru terbarukan (EBT) ditargetkan mencapai 70 hingga 75 persen dari total kapasitas pembangkit nasional. Angka ini naik signifikan dibandingkan periode sebelumnya, sebuah sinyal kuat bahwa transisi energi bukan lagi sekadar wacana. Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa langkah ini diambil dengan pertimbangan matang untuk mengurangi ketergantungan struktural terhadap energi fosil dan impor. Menurutnya, ketahanan energi jangka panjang tidak bisa dibangun di atas fondasi yang rapuh, terutama di tengah ketidakpastian pasokan global. Proyek PLTS Raksasa 100 Gigawatt Salah satu proyek andalan yang tengah disiapkan adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas mencapai 100 gigawatt. Proyek ini tidak akan dibangun sekaligus, melainkan dieksekusi secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. Strategi ini dinilai lebih realistis dan memungkinkan penyesuaian teknis di lapangan. "Tahun ini, atau tepatnya pada periode 2025 hingga 2026, kita sudah akan mulai masuk tahap pertama dengan pembangunan 30 gigawatt. Kami sudah membahas hal ini dengan pihak PLN dan proses tendernya akan mulai kita lakukan sekarang," tuturnya. Fase awal 30 gigawatt ini menjadi ujian nyata bagi kesiapan industri dalam negeri. Koordinasi dengan PT PLN (Persero) pun sudah berjalan, dan proses tender direncanakan segera dimulai. Ini merupakan langkah konkret yang tidak hanya mengejar target lingkungan, tetapi juga membuka peluang investasi besar di sektor energi hijau. Optimisme Menuju Net Zero Emission Di sela-sela paparannya, Bahlil menyampaikan optimisme bahwa Indonesia tidak hanya mampu memenuhi komitmen global terkait penurunan emisi karbon atau Net Zero Emission. Lebih dari itu, ia yakin upaya ini akan memastikan ketahanan dan kemandirian energi bagi generasi mendatang. Optimisme ini lahir dari keyakinan bahwa potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar, mulai dari panas bumi, surya, hingga hidro. Dari sisi lapangan, transisi energi memang bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan konsistensi kebijakan, kesiapan teknologi, dan tentu saja dukungan pendanaan. Namun, dengan adanya arahan langsung dari presiden dan target yang terukur dalam RUPTL, arah kebijakan ini mulai terlihat jelas. Kini, semua mata tertuju pada eksekusi di lapangan, terutama pada tender tahap pertama PLTS yang akan segera bergulir.
Artikel Terkait
Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Minta Seluruh Aset Sitaan Dikembalikan
Pemerintah Siapkan Insentif Pajak Baru untuk Percepat Proyek Panas Bumi
Donasi Digital di Peringatan HUT RI Terkumpul Rp2,16 Miliar untuk Korban Gempa NTT
UEA Terapkan Embargo Dagang Total ke Iran Usai Rudal Balistik Jatuh di Perairan Fujairah