Andrew Cuomo Tertawa Dengar Komentar Islamofobia ke Calon Wali Kota New York, Zohran Mamdani: Sorak 9/11 Ulang?

- Selasa, 28 Oktober 2025 | 04:20 WIB
Andrew Cuomo Tertawa Dengar Komentar Islamofobia ke Calon Wali Kota New York, Zohran Mamdani: Sorak 9/11 Ulang?

Calon Wali Kota New York Zohran Mamdani Hadapi Komentar Islamofobia dari Andrew Cuomo

NEW YORK - Calon Wali Kota New York Zohran Mamdani menjadi korban olok-olok bernuansa Islamofobia dalam siaran radio populer. Insiden ini melibatkan pembawa acara Sid Rosenberg dan mantan Gubernur New York Andrew Cuomo yang melontarkan pernyataan kontroversial tentang tragedi 11 September.

Komentar Kontroversial di Radio New York

Sid Rosenberg secara sarkastis menyatakan bahwa Mamdani akan "bersorak jika serangan 11 September terulang lagi." Yang mengejutkan, Andrew Cuomo yang hadir sebagai tamu justru menyambut pernyataan tersebut dengan tawa. Insiden ini langsung memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak.

Respons Komunitas Muslim dan Organisasi HAM

Komunitas Muslim Amerika dan kelompok hak asasi manusia mengecam keras pernyataan tersebut. Basim Elkarra, Direktur Eksekutif CAIR Action, menyatakan: "Dengan menyetujui pembawa acara radio rasis yang mengatakan pejabat Muslim akan bersorak jika 9/11 berulang, Cuomo telah melewati batas moral."

Elkarra menegaskan bahwa komentar tersebut bukan sekadar candaan, melainkan ujaran kebencian berbahaya yang mempermalukan korban diskriminasi.

Tanggapan Tegas Zohran Mamdani

Dalam pidato di luar sebuah masjid di Bronx, Mamdani menanggapi serangan tersebut dengan tegas. Calon wali kota Muslim ini menyebut tindakan Cuomo dan Rosenberg sebagai bentuk nyata Islamofobia politik yang masih menghantui Muslim Amerika.

"Menjadi Muslim di New York berarti menghadapi penghinaan," ujar Mamdani. "Tapi kami tidak akan diam. Kami telah belajar untuk menolak rasa takut dan menggantinya dengan kekuatan."

Serangan Politik Beruntun Terhadap Mamdani

Insiden di radio ini bukan satu-satunya serangan yang dihadapi Mamdani. Calon dari Partai Republik Curtis Sliwa menyebutnya sebagai "pendukung jihad global" dalam debat terbuka. Selain itu, sebuah iklan politik dari Super PAC menggambarkannya secara karikatural sebagai "teroris."

Pengamat politik menilai serangan beruntun ini mencerminkan ketakutan elite politik terhadap kebangkitan pemimpin Muslim progresif di Amerika Serikat.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar