Didik Mukrianto Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran sebagai Pelanggaran HAM dan Sikap Hipokrit

- Senin, 02 Maret 2026 | 04:25 WIB
Didik Mukrianto Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran sebagai Pelanggaran HAM dan Sikap Hipokrit

PARADAPOS.COM - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Didik Mukrianto, secara terbuka mengkritik keras serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui media sosial, politisi senior itu menilai tindakan tersebut telah melampaui batas kewajaran, melanggar hak asasi manusia, dan berpotensi memicu ketidakstabilan keamanan global yang lebih luas.

Kecaman atas Pelanggaran HAM dan Standar Ganda

Didik Mukrianto tidak ragu menyebut serangan itu sebagai sebuah pelanggaran HAM yang serius. Menurut analisisnya, aksi militer tersebut bukan hanya sebuah eskalasi kekerasan, tetapi juga mencerminkan standar ganda yang kerap dipraktikkan dalam politik internasional. Ia melihat pola yang mirip dengan konflik panjang di wilayah lain.

“Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang keji, mengingatkan pada sejarah pendudukan Palestina di mana kekerasan struktural terhadap warga sipil menjadi norma,” ungkapnya lewat akun X pada Senin, 2 Maret 2026.

Klaim Perdamaian yang Dianggap Hipokrit

Lebih lanjut, Didik menyoroti kontradiksi antara narasi yang dibangun dengan realitas di lapangan. Klaim untuk membela demokrasi dan menjaga perdamaian dunia, dalam pandangannya, justru bertolak belakang dengan metode operasi militer yang digunakan, seperti pembunuhan terarah dan bombardemen skala besar.

“Ini tindakan hipokrit. Mereka mengklaim membela demokrasi dan berdalih untuk perdamaian dunia, tapi justru bisa memperburuk siklus terorisme dengan menciptakan musuh baru melalui pembunuhan targeted dan bombardemen massal,” tegas Wakil Sekjen Partai Demokrat tersebut.

Seruan untuk Akuntabilitas dan Kecaman Global

Di akhir pernyataannya, Didik Mukrianto menyerukan perubahan pendekatan dari komunitas internasional. Alih-alih memberikan dukungan tanpa reserve, dunia diminta untuk menuntut pertanggungjawaban atas setiap aksi yang berimbas pada korban sipil. Ia menekankan bahwa dukungan membabi buta hanya akan memperpanjang rantai penderitaan.

“Dunia harus menuntut akuntabilitas, bukan dukungan buta, karena perilaku ini hanya memperpanjang penderitaan umat manusia, khususnya di Timur Tengah,” lanjutnya.

Sebagai penutup, ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengutuk apa yang disebutnya sebagai arogansi kekuasaan. Didik mendorong langkah-langkah nyata, termasuk tekanan internasional, untuk mendorong kembali jalan dialog damai. “Mari kita kutuk keras arogansi imperial ini dan serukan boikot internasional hingga dialog damai ditegakkan,” pungkasnya.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar