PARADAPOS.COM - Pengamat politik senior Rocky Gerung mengkritik sejumlah menteri di Kabinet Prabowo Subianto dengan nada keras, menyebut sebagian besar di antaranya tidak memahami visi besar Presiden. Kritik tersebut terutama ditujukan kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang dinilainya buta arah dalam menjalankan konsep "Prabowonomics". Pernyataan kontroversial ini disampaikan Gerung dalam sebuah podcast yang diunggah baru-baru ini.
Kritik Terbuka di Podcast Politik
Dalam acara siniar Total Politik yang tayang di platform digital, Rocky Gerung secara terbuka menyoroti komposisi dan kinerja kabinet. Ia menyatakan bahwa meski Presiden Prabowo Subianto memiliki cita-cita menjadi pemimpin dengan corak sosialis di kawasan Asia, sekitar 70 persen menterinya dinilai gagal menangkap arah pemikiran tersebut. Analisisnya ini memicu perbincangan hangat di kalangan pengamat.
Bahlil Disebut "Paling Bodoh", Purbaya Menyusul
Kritik Rocky Gerung mencapai puncaknya saat ia menyebut nama-nama menteri secara spesifik. Dengan bahasa yang lugas dan tanpa tedeng aling-aling, ia memberikan penilaian yang sangat tajam terhadap dua orang menteri.
"Prabowonomik itu adalah jalan Presiden Prabowo untuk menjadi pemimpin sosialis bukan hanya di Indonesia, tapi di Asia," tuturnya sebagai pengantar sebelum melontarkan kritik lebih lanjut.
“Yang pertama Bahlil, yang paling bodoh. Yang kedua Purbaya,” kata Rocky dengan tegas.
Analisis Bahasa Tubuh dan Pendekatan Kebijakan
Rocky Gerung tidak hanya berhenti pada penyebutan gelar, tetapi juga memberikan argumentasi di balik kritiknya. Terkait Menteri Bahlil, ia mengamati bahwa bahasa tubuh dan sikap politik sang menteri lebih mencerminkan upaya untuk menyenangkan atasan daripada pemahaman mendalam tentang konsep inti pemerintahan.
“Bahasa tubuh Bahlil itu sudah menjelaskan dia cuma ingin menjilat, dia tidak paham tentang social justice. Kan basis dari Prabowonomics itu social justice. Bahlil nggak paham,” ujarnya.
Sementara untuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gerung melihat masalah pada paradigma yang dipegang. Ia menilai Purbaya terjebak pada pendekatan ekonomi yang terlalu teknis dan moneter, sehingga mengabaikan dimensi sosial-politik yang justru menjadi landasan ilmu ekonomi.
“Bagi dia ilmu ekonomi itu adalah matematika. Padahal ilmu ekonomi itu ilmu sosial, bahkan di awal itu political economy,” jelas Rocky mengenai titik pangkal perbedaannya dengan Purbaya.
“Dia cuma mengerti bagaimana menghasilkan pertumbuhan dengan mengendalikan jumlah uang yang beredar. Itu namanya monetaris. Itu doang,” tambahnya untuk memperkuat argumen.
Mencermati Dinamika Kabinet Baru
Komentar pedas dari seorang pengamat mapan seperti Rocky Gerung ini menyoroti dinamika dan tantangan yang dihadapi kabinet pemerintahan baru. Kritik yang berfokus pada keselarasan visi antara pimpinan dan pelaksana kebijakan ini menjadi bahan refleksi penting, terlepas dari berbagai tanggapan yang mungkin muncul. Ungkapan-ungkapan langsungnya, meski terkesan keras, memberikan gambaran tentang bagaimana konsep kepemimpinan dan kebijakan ekonomi pemerintah ditelaah dari sudut pandang eksternal.
Artikel Terkait
Kader PSI Sarankan Jusuf Kalla Nasihati Pihak yang Perpanjang Polemik Ijazah Jokowi
Presiden Prabowo: Indonesia Siap Beri Kejutan Dunia pada 2027
Misbakhun Kritik Wacana JK Naikkan Harga BBM: Data Dinilai Tidak Mutakhir
FKPPI DKI Jakarta Tolak Seruan Saiful Mujani untuk Menggulingkan Prabowo