PARADAPOS.COM - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) secara terbuka menyampaikan kekecewaan terkait dinamika politik pasca-pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sikap yang disampaikan dalam berbagai kesempatan itu ditanggapi oleh pengamat sebagai sinyal untuk menertibkan kelompok pendukung Jokowi yang dikenal sebagai Ternak Mulyono (Termul), sekaligus upaya menegaskan kembali kontribusi historisnya dalam karier politik Jokowi.
Analisis di Balik Sikap Terbuka JK
Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, melihat bahwa kemarahan yang ditunjukkan JK bukanlah luapan emosional biasa. Menurutnya, ada pesan politik yang lebih dalam di balik keterbukaan mantan wakil presiden dua periode tersebut, termasuk dalam membuka percakapan pribadinya di hadapan publik.
Efriza mengakui, terdapat kesan kuat bahwa JK merasa terusik dengan keberadaan dan aktivitas kelompok Termul. Karena itu, kemarahan yang ditampilkannya di ruang publik dinilai sebagai cara untuk mempertegas posisi dan pengaruhnya dalam peta politik nasional saat ini.
“Tindakan JK membuka chat pribadi juga bukan sekadar luapan emosional semata,” ujarnya.
Strategi Komunikasi dan Tekanan Moral
Lebih lanjut, Efriza menjelaskan bahwa langkah JK tersebut merupakan bagian dari strategi komunikasi politik yang cermat. Tujuannya ganda: menegaskan legitimasi historisnya sekaligus membangun tekanan moral terhadap pihak-pihak tertentu, khususnya para pendukung loyal Jokowi.
“Tetapi ini juga strategi komunikasi politik JK untuk menegaskan legitimasi historis dan membangun tekanan moral kepada pihak-pihak tertentu yang notabene pendukung loyal Jokowi,” tuturnya.
Sebagai Magister Ilmu Komunikasi Politik Universitas Nasional (UNAS), Efriza memperkirakan bahwa pesan tersebut pada hakikatnya merupakan teguran tidak langsung kepada Jokowi sendiri. Teguran itu dimaksudkan untuk mengingatkan sang presiden agar dapat mengendalikan para pendukungnya agar tidak mengusik JK.
Pesan Tersurat di Balik Ketegangan
Analisis ini mengungkap pergeseran sikap JK yang tampaknya tidak lagi sepenuhnya khawatir atau memilih diam mengenai peran besarnya dalam mendukung Jokowi di masa lalu. Sikap terbuka ini justru menegaskan bahwa ia memainkan peran yang sangat krusial dalam perjalanan karier politik presiden ketujuh Indonesia tersebut.
“Ini menunjukkan adanya ketegangan JK yang tidak lagi sepenuhnya takut, khawatir, maupun memilih menutup perannya yang besar bagi Jokowi. Sekaligus, menunjukkan JK itu berperan penting dalam karier Jokowi,” urainya.
Efriza menutup analisisnya dengan menyimpulkan pesan inti dari seluruh pernyataan JK. Pesan itu sederhana namun penuh makna, terutama dalam konteks politik yang menghargai jasa.
“Jika tidak bisa balas jasa terhadap JK, maka sebaiknya diam. Itu pesan tersurat dari pernyataan JK,” demikian Efriza menambahkan.
Artikel Terkait
Prabowo dan Luhut Bahas Strategi Jaga Daya Beli dan APBN di Tengah Gejolak Global
Pengamat Nilai Kekecewaan Pribadi di Balik Pernyataan Terbuka Jusuf Kalla
Kebijakan BBM dan Elpiji Bahlil Dikritik Berpotensi Gerus Kepercayaan Publik
DPR Sahkan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Usai Perjuangan 22 Tahun