PARADAPOS.COM - Suhu politik nasional kembali memanas setelah beredarnya poster digital bergaya kampanye yang menampilkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Poster tersebut menyebar luas melalui aplikasi pesan instan, tepat pada malam hari setelah gelombang demonstrasi besar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Jumat, 12 Juni 2026. Kemunculan materi visual ini langsung memicu spekulasi di kalangan publik, apalagi momentumnya bertepatan dengan pernyataan tegas dari tokoh reformasi yang justru menyerukan stabilitas pemerintahan.
Poster Kampanye Dini dan Narasi Provokatif
Materi yang beredar di grup-grup WhatsApp itu menampilkan foto Gibran dengan jas hitam, peci, dan dasi merah. Di dadanya, terpasang lencana pin presiden. Latar belakang poster didominasi bendera Merah Putih dan siluet gedung pencakar langit, menciptakan kesan visual yang megah namun sarat muatan politis.
Narasi dalam poster tersebut cukup eksplisit. Kalimat "SAATNYA GIBRAN MEMIMPIN: TOKOH MUDA SOLUSI BANGSA HARI INI" terpampang jelas, ditambah jargon di bagian bawah yang bertuliskan "AYO BERSATU MAS GIBRAN –PRESIDEN–." Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti siapa pihak yang merancang dan menyebarkan pertama kali materi tersebut.
Seruan Stabilitas dari Amien Rais
Di tengah hiruk-pikuk poster itu, muncul suara berbeda dari tokoh reformasi. Amien Rais, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, justru mengingatkan publik untuk tidak mudah terprovokasi. Ia menegaskan pentingnya menjaga ritme konstitusi.
"Ritme pergantian kekuasaan per 5 tahun sekali sesuai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 harus kita pertahankan supaya tidak ada pemerintahan pusat yang diturunkan di tengah jalan," ujarnya dalam pernyataan resmi yang disiarkan melalui kanal YouTube pribadinya.
Mantan Ketua MPR itu juga menilai wacana pemakzulan, baik terhadap Presiden Prabowo Subianto maupun Wapres Gibran, hampir mustahil secara hukum tata negara. Ia menyebut konstelasi parlemen saat ini tidak memungkinkan langkah sebesar itu.
"Semarah apa pun kita pada Gibran, dengan konstelasi pimpinan DPR-MPR yang sekarang ini, kiranya melakukan impeachment terhadap Gibran itu juga amat sangat sulit," ungkapnya.
Kekhawatiran akan Pengalihan Isu
Amien Rais mengakui adanya kejengkelan publik terhadap Gibran. Namun, ia menekankan bahwa aturan konstitusi harus tetap dihormati. Ia meminta agar energi bangsa tidak habis untuk guncangan politik di pusat dan memberikan kesempatan bagi Presiden Prabowo untuk merealisasikan program-programnya.
Di sisi lain, kemunculan poster bernada kampanye dini ini menimbulkan kecurigaan. Sejumlah pengamat menduga ada pihak yang sengaja ingin memanaskan situasi pasca-demo, demi menggeser fokus dari kepemimpinan saat ini. Namun, dugaan tersebut masih sebatas spekulasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Istana Wakil Presiden maupun kelompok relawan Gibran mengenai siapa aktor di balik pembuatan dan penyebaran poster tersebut. Publik pun masih menunggu kejelasan di tengah tensi politik yang kian menghangat.
Artikel Terkait
Dokter Tifa Dukung Prabowo Penuh Hingga 2029, Justru Minta Gibran Dimakzulkan
Hendrajit: Reformasi Jilid II Perlu Evaluasi Mendalam, Bukan Sekadar Ulang Skenario Lama
Tangisan Kepala BGN di Podcast Picu Gelombang Kritik, Warganet Kaitkan dengan Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet
Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Dikecam Usai Beri Nama Sarkastis pada Kucing yang Dianggap Hina Prabowo