Jokowi Dinilai Pilih Jadi Politisi demi Jaga Elektabilitas Anak dan Menantu

- Selasa, 07 Juli 2026 | 06:25 WIB
Jokowi Dinilai Pilih Jadi Politisi demi Jaga Elektabilitas Anak dan Menantu

PARADAPOS.COM - Safari politik mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo ke berbagai daerah belakangan ini menuai sorotan. Pengamat politik Ray Rangkuti menilai bahwa kegiatan yang dilakukan Jokowi, meskipun dikemas sebagai silaturahmi, tetap sarat dengan nuansa politik praktis. Menurutnya, hal ini terlihat dari kehadiran kader partai dan penyampaian pesan-pesan politik dalam setiap pertemuan. Ray mengungkapkan bahwa Jokowi kini berada di persimpangan jalan: memilih menjadi negarawan atau politisi harian, dan tampaknya ia lebih condong ke pilihan kedua demi menjaga elektabilitas anak dan menantunya.

Silaturahmi atau Kampanye Terselubung?

Ray Rangkuti, pengamat politik yang dikenal kritis, mengamati pola pergerakan Jokowi pasca lengser dari kursi kepresidenan. Menurutnya, apa yang disebut sebagai silaturahmi oleh Jokowi sebenarnya tidak ubahnya agenda politik. "Maunya disebut silaturahmi, tetapi yang didatangi kampanye di depan orang-orang partai," kata Ray dalam kanal YouTube Kanal SA, Selasa, 7 Juli 2026.

Pernyataan ini menegaskan bahwa publik seharusnya tidak mudah terkecoh dengan label kegiatan. Substansi dari setiap kunjungan, jelas Ray, tetap mengarah pada mobilisasi dukungan politik.

Dua Jalan Setelah Kekuasaan

Dalam pandangan Ray, seorang mantan pemimpin negara pada dasarnya memiliki dua jalur karier. Pertama, menjadi negarawan yang bijak, dan kedua, menjadi politisi yang aktif di lapangan. "Politisi negarawan itu setelah lengser hanya memberi nasihat soal kebangsaan yang bersifat makro, bukan berhubungan dengan urusan partai," ujarnya.

Namun, Ray menilai Jokowi tidak memiliki banyak ruang untuk memilih jalur pertama. Ada kepentingan yang lebih mendesak yang mengikat langkahnya. "Anak-anaknya bergantung pada dirinya. Elektabilitas anaknya, popularitas anaknya tergantung pada dirinya, termasuk menantunya Bobby Nasution. Jadi turun popularitasnya, anaknya kena. Naik popularitasnya, anaknya juga kena," jelasnya.

Kondisi ini, menurut Ray, membuat Jokowi harus terus menjaga eksistensinya di panggung politik. Jika intensitas politiknya menurun, dampaknya akan langsung terasa pada elektabilitas anak dan menantunya yang masih bertumpu pada figur sang mantan presiden.

Atas dasar itu, Ray berpandangan bahwa Jokowi akan terus aktif dalam berbagai aktivitas politik. Tidak ada pilihan lain baginya selain tetap hadir dan menjaga popularitas demi keberlanjutan karier politik keluarganya.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar