Setelah itu, Budiman melontarkan pertanyaan terkait dinasti politik, dan mencari tahu apakah sosok seperti Mahfud ada keinginan untuk membuat dinasti politiknya sendiri.
"Banyak elite bangun dinasti politik. Kenapa Pak Mahfud enggak bangun?" tanyanya.
Tanpa jeda, Mahfud pun menyatakan menolak praktik tersebut, seraya meluruskan makna dinasti politik yang dalam diskursus politik jelang pemilihan umum (Pemilu) Serentak 2024 kemarin menghangat.
"Enggak kalau saya (bikin dinasti politik). Itu istilah nepotisme ya (sebenarnya). Kalau dinasti itu kan sebuah sistem yang melembaga dan ada aturannya malah," tegasnya sembari menjelaskan,
"Kalau nepotisme itu suatu sikap yang spontan saja, kasuistik atau berlanjut tapi tidak tersistem. Saya tidak suka nepotisme," tambahnya menegaskan.
Kemudian, Mahfud melanjutkan komentarnya mengenai dinasti politik itu, sembari memberikan contoh kasus dari permisalan dirinya jika dihadapkan dengan orang yang mempraktikan nepotisme.
"Karena saya membayangkan ketika saya butuh pekerjaan, duduk, saya sakit hati kalau pekerjaan saya itu diambil oleh orang lain yang lebih jelek dari saya. Jadi kalau saya bersikap nepotisme, mendahulukan anak, keluarga itu saya enggak mau, itu menyakitkan orang," tuturnya.
Oleh karena membuat orang tersakiti dari perbuatan nepotisme tersebut, Mahfud menyatakan menolak ikut membentuk kerajaan politik.
"Enggak tega kalau lihat orang, orang tuanya kerja keras menyiapkan ini itu, besok mau ada tes di sini, besok ada tes di sini, orang tuanya jual macam-macam, datang ke Surabaya pas tes enggak tahunya dia yang pinter enggak lulus ini malah orang lain yang lulus, lewat ordal," demikian Mahfud.
Sumber: rmolrmol
Artikel Terkait
Ijazah Jokowi Pakai Materai Rp100, Sah atau Tidak? Ini Klarifikasi Lengkap PSI
Polemik Ijazah Jokowi: Analisis Dampak Hukum & Peluang Politik Elektoral 2026
Kunjungan Rahasia Eggi Sudjana dan Damai Lubis ke Jokowi Disebut Aib Besar, Ini Fakta Lengkapnya
Analisis Kontroversi Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Tudingan Antek Asing & Reaksi Publik