Rusia Klaim Tembak Jatuh Jet F-16 Ukraina dengan Rudal Pertahanan Udara S-300
Klaim terbaru dari Moskow menyebutkan pasukan pertahanan udara Rusia berhasil menembak jatuh pesawat tempur F-16 buatan Amerika Serikat yang dioperasikan Ukraina. Sistem rudal S-300 disebut sebagai senjata yang digunakan dalam operasi ini.
Pengakuan Komandan Rusia di Televisi Nasional
Klaim ini disampaikan oleh seorang komandan dengan nama sandi "Sever" dalam wawancara di stasiun televisi Russia-1, Minggu (11/1/2026). Sever menyebut F-16 sebagai target paling berharga yang pernah dihadapi unitnya.
"Kami membutuhkan waktu lama untuk mempersiapkan operasi ini. Kami melacak dan mengantisipasinya. Musuh membanggakan bahwa pesawat-pesawat ini tidak bisa dihancurkan. Nyatanya, mereka jatuh dari langit seperti pesawat lainnya," ujar Sever, seperti dikutip dari laporan RT.
Ia menjelaskan bahwa dua rudal S-300 ditembakkan. Rudal pertama merusak jet, sementara rudal kedua menghancurkannya sepenuhnya. Namun, tidak ada detail waktu dan lokasi pasti kejadian yang diberikan dalam pernyataan tersebut.
Catatan Kehilangan F-16 Ukraina dan Pengiriman dari Barat
Ukraina mulai menerima jet tempur F-16 dari sekutu-sekutu Baratnya pada Agustus 2024. Sejak saat itu, Kiev telah mengonfirmasi kehilangan setidaknya empat unit F-16 dalam pertempuran.
Menurut laporan Business Insider, Ukraina hingga saat ini telah menerima sekitar 44 dari total 87 jet F-16 yang dijanjikan oleh negara-negara pendukungnya di Eropa. Kehadiran F-16 dianggap sebagai penguatan signifikan bagi Angkatan Udara Ukraina dalam menghadapi superioritas udara Rusia.
Analisis Klaim dan Konteks Pertempuran Udara
Klaim penembakan F-16 oleh Rusia kerap muncul, namun verifikasi independen sulit didapat di tengah medan perang. Sistem pertahanan udara Rusia, termasuk S-300 dan S-400, memang menjadi ancaman serius bagi pesawat NATO di wilayah operasi Ukraina.
Pernyataan komandan Sever ini belum dapat dikonfirmasi secara independen dan detail operasi yang minim membuat analisis lebih lanjut terbatas. Klaim semacam ini sering kali menjadi bagian dari perang informasi dan propaganda untuk memengaruhi moral dan narasi perang.
Pihak Ukraina biasanya memberikan tanggapan resmi terhadap klaim semacam ini, baik untuk membantah atau mengonfirmasi kehilangan, meski seringkali dengan penundaan karena alasan keamanan operasional.
Artikel Terkait
Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Kabul dan Provinsi Perbatasan Afghanistan
Trump Serukan Deportasi Dua Anggota Kongres Demokrat Usai Ricuh di Pidato Kenegaraan
Iran Tuduh AS dan Israel Gunakan Propaganda Nazi Jelang Perundingan Nuklir
Analisis Israel Peringatkan Ancaman Baru dari Blok Sunni yang Dipimpin Turki-Mesir