Kim Jong-un Tawarkan Rudal ke Iran dan Ancam Israel Usai Serangan AS

- Kamis, 05 Maret 2026 | 05:50 WIB
Kim Jong-un Tawarkan Rudal ke Iran dan Ancam Israel Usai Serangan AS

PARADAPOS.COM - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyatakan kesediaannya untuk memasok rudal kepada Iran, seraya mengeluarkan pernyataan keras yang mengancam Israel. Pernyataan ini disampaikan menyusul serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, yang oleh Pyongyang dikutuk sebagai tindakan ilegal dan pelanggaran kedaulatan. Analisis melihat pernyataan ini sebagai bagian dari pergeseran sikap Korea Utara sekaligus mencerminkan kalkulasi strategis yang kompleks di tengah ketegangan global yang meningkat.

Pergeseran Nada yang Drastis

Hanya berselang dua minggu setelah mengisyaratkan keterbukaan untuk berdialog dengan Presiden AS Donald Trump dalam sebuah kongres partai, sikap Pyongyang berubah tajam. Serangan terhadap Iran tampaknya memicu respons yang lebih keras dan konfrontatif dari kepemimpinan di Korea Utara.

Respon resmi pertama datang dari Kementerian Luar Negeri Korea Utara melalui seorang juru bicara tak bernama pada 1 Maret. Langkah ini, menurut pengamat diplomasi, sering menjadi pendahulu bagi pernyataan yang lebih tegas dari tingkat kepemimpinan tertinggi. Dalam pernyataannya, Pyongyang secara sistematis menguraikan kecamannya.

Mereka mengecam serangan tersebut sebagai agresi ilegal dan pelanggaran berat terhadap kedaulatan Iran. Lebih jauh, Pyongyang menyebut tindakan itu sebagai konsekuensi yang dapat diprediksi dari perilaku hegemonik Washington di kawasan. Pernyataan itu juga menuduh AS telah melemahkan perdamaian global dalam setahun terakhir dan menyerukan agar negara-negara di kawasan mengidentifikasi dengan tepat siapa agresor sebenarnya.

Ancaman Langsung dan Kalkulasi di Baliknya

Tak lama setelah pernyataan diplomatik itu, Kim Jong-un sendiri tampil dengan nada yang jauh lebih langsung dan provokatif. Pemimpin yang dikenal dengan retorikanya yang tak terduga itu tidak hanya menawarkan bantuan militer, tetapi juga menyasar Israel dengan ancaman eksplisit.

Kim Jong-un menegaskan, "Satu rudal saja cukup untuk melenyapkan Israel."

Pernyataan ini, meski hiperbolis, menunjukkan kesiapan Pyongyang untuk terlibat lebih dalam dalam konflik Timur Tengah dan memperkuat posisinya sebagai penentang blok yang dipimpin AS. Ancaman tersebut sekaligus menjadi bentuk solidaritas yang nyata kepada Iran, mitra yang telah lama memiliki hubungan diplomatik dan militer dengan Korea Utara.

Risiko dan Peluang Strategis bagi Pyongyang

Keputusan untuk terlibat, bahkan sekadar dalam bentuk penawaran pasokan senjata, bukanlah langkah tanpa risiko bagi rezim Kim Jong-un. Namun, di baliknya tersimpan sejumlah kalkulasi strategis yang mungkin menguntungkannya.

Analisis dari publikasi internasional seperti The Diplomat menunjukkan, salah satu potensi keuntungan terletak pada dinamika pasokan militer global. Baik Iran maupun Korea Utara telah menjadi pemasok penting bagi Rusia dalam perang di Ukraina. Jika Iran harus mengalihkan persenjataannya untuk pertahanan sendiri, maka Rusia mungkin akan semakin bergantung pada pasokan dari Korea Utara. Hal ini dapat meningkatkan leverage dan pengaruh Pyongyang di hadapan Moskow.

Namun, krisis ini juga menyoroti kerentanan dalam aliansi-aliansi tersebut. Baik Iran maupun Korea Utara memiliki perjanjian kemitraan strategis dengan Rusia. Namun, respons Moskow terhadap serangan terhadap Iran sejauh ini terbatas pada kecaman diplomatik, tanpa dukungan militer konkret. Keengganan Rusia ini memunculkan pertanyaan tentang keandalan sekutu seperti itu bagi Korea Utara di masa depan, jika mereka sendiri menghadapi krisis serupa.

Dengan demikian, pernyataan keras Kim Jong-un bukan sekadar retorika kosong. Ia mencerminkan sebuah permainan strategis yang berisiko tinggi, di mana Pyongyang berusaha memposisikan diri sebagai kekuatan yang diperhitungkan, memperkuat solidaritas dengan sekutu yang terdesak, dan sekaligus menguji batas-batas aliansi yang ada—semua sambil menimbang untung rugi bagi kepentingan nasionalnya yang terisolasi.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar