Dunia Muslim Kecam Pernyataan Pejabat AS yang Sebut Konflik dengan Iran sebagai Perang Agama

- Kamis, 05 Maret 2026 | 17:25 WIB
Dunia Muslim Kecam Pernyataan Pejabat AS yang Sebut Konflik dengan Iran sebagai Perang Agama

PARADAPOS.COM - Pernyataan kontroversial seorang pejabat tinggi militer Amerika Serikat yang menyebut potensi konflik dengan Iran sebagai "perang agama" telah memicu kecaman keras dari sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim. Komentar yang dinilai menyentuh sentimen keyakinan itu dengan cepat menuai reaksi diplomatik dari Arab Saudi, Turki, hingga lembaga keagamaan terkemuka di Mesir, yang mengecam keras politisasi agama untuk kepentingan militer.

Reaksi Keras dari Dunia Muslim

Gelombang protes bermula dari pernyataan Menteri Perang AS, Pete Brian Hegseth, yang mengaitkan ancaman Iran dengan keyakinan agamanya. Dalam pidatonya, Hegseth menggunakan narasi yang diambil dari konsep keagamaan, seperti "Armageddon", untuk membenarkan operasi militer. Pendekatan ini langsung dianggap sebagai penyulut api perpecahan yang berbahaya.

Arab Saudi, sekutu tradisional Washington di kawasan, termasuk yang paling vokal menolak narasi tersebut. Pemerintah Kerajaan menilai pernyataan AS sebagai tindakan tidak bertanggung jawab yang berpotensi memicu ketegangan lebih luas.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan, "AS tengah mempolitisasi keyakinan agama untuk membenarkan agresi militer dan menolak keras narasi 'Perang Suci' yang dibawa Hegseth."

Lebih lanjut, pihak Saudi mempertanyakan standar ganda yang diterapkan. Mereka menyoroti kekhawatiran bahwa jika Alkitab digunakan untuk menyerang satu negara Muslim, maka tidak ada negara Muslim lain yang akan merasa aman dari apa yang mereka sebut sebagai target "Perang Salib modern".

Kecaman dari Turki dan Peringatan dari Al-Azhar

Dari Ankara, Presiden Recep Tayyip Erdogan tidak kalah kerasnya. Ia menyebut pihak di AS yang berpikir demikian telah kehilangan kewarasan dan terjebak dalam mentalitas abad pertengahan.

Erdogan mengungkapkan keprihatinannya, "Jika menteri sebuah negara adidaya berbicara tentang menyerang negara lain berdasarkan ramalan kiamat, maka dunia sedang dipimpin oleh orang-orang yang kehilangan kewarasan."

Pemerintah Turki juga mengisyaratkan kemungkinan untuk menyatukan negara-negara Muslim guna mengutuk klaim AS tersebut, seraya memperingatkan bahaya penggunaan istilah-istilah religius seperti "Amalek" dalam percakapan militer.

Sementara itu, dari pusat keilmuan Islam Sunni terkemuka di dunia, Al-Azhar di Kairo, muncul kecaman berbasis intelektual. Lembaga tersebut menyebut pernyataan Hegseth sebagai bentuk "terorisme intelektual" yang menghina miliaran umat Islam.

Al-Azhar juga memberikan peringatan serius, "Kejahatan perang luar biasa akan terjadi tatkala tentara mulai turun ke jalan dengan klaim menjalankan perintah Tuhan mereka."

Sumber Kontroversi: Pernyataan Hegseth

Seluruh reaksi keras ini berpangkal pada pernyataan yang disampaikan Pete Brian Hegseth pada awal Maret 2026. Saat membenarkan operasi militer besar AS yang diperintahkan Presiden Donald Trump kala itu, Hegseth secara eksplisit mengaitkan ancaman nuklir Iran dengan keyakinan agamanya.

Dia menyatakan, "Rezim gila seperti Iran, yang sangat bergantung pada delusi Islam yang bersifat kenabian, tidak dapat memiliki senjata nuklir."

Pernyataan itu ditafsirkan banyak pengamat sebagai sindiran terhadap keyakinan messianis dalam tradisi Syiah yang dianut mayoritas penduduk Iran. Hegseth kemudian memuji operasi udara yang diluncurkan sebagai yang "paling mematikan, paling kompleks dan paling tepat dalam sejarah". Kombinasi antara bahasa religius dan klaim superioritas militer inilah yang akhirnya memantik krisis diplomatik yang menusuk ke jantung hubungan antarperadaban.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar