PARADAPOS.COM - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut pihaknya unggul dan memprediksi konflik militer akan berlangsung singkat. Menanggapi hal itu, Iran melalui juru bicara Garda Revolusinya menegaskan bahwa negaranya yang akan menentukan akhir dari perang ini. Eskalasi ini telah memicu kekhawatiran atas stabilitas jalur energi global di Selat Hormuz dan mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Iran Klaim Kendali Penuh Atas Jalannya Konflik
Pernyataan Trump yang percaya diri langsung dibalas dengan nada tegas dari Teheran. Juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Ali Mohammad Naini, secara terang-terangan menolak klaim AS dan memindahkan narasi kendali ke pihak Iran.
Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran dan dikutip dari Associated Press, Rabu 11 Maret 2026, Naini menegaskan posisi negaranya. "Iran akan menentukan kapan perang berakhir," ujarnya dengan lugas.
Pernyataan Trump dan Ancaman di Selat Hormuz
Sebelumnya, dalam sebuah pidato di hadapan pendukungnya, Trump menggambarkan operasi militer terhadap Iran sebagai sebuah langkah sementara. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa konflik bersenjata tidak akan berlarut-larut.
"Saya pikir Anda akan melihat bahwa ini akan menjadi operasi jangka pendek," tutur Trump mengenai langkah yang disebutnya untuk menghadapi ancaman dari Teheran.
Namun, nada peringatannya berubah menjadi lebih keras beberapa jam kemudian, khususnya menyangkut isu vital jalur pelayaran minyak. Melalui media sosial, Trump mengeluarkan ancaman eksplisit terkait keamanan Selat Hormuz, jalur strategis bagi lebih dari seperlima pasokan minyak global.
"Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami sejauh ini," tulisnya, memperjelas betapa sensitifnya isu energi dalam ketegangan ini.
Iran Siap Hadapi Perang Berkepanjangan
Di sisi lain, pemerintah Iran memandang pernyataan-pernyataan dari Washington bukan sekadar ancaman militer, melainkan juga sebagai bagian dari tekanan politik dan propaganda perang. Perspektif dari Teheran menunjukkan kesiapan untuk skenario konflik yang lebih panjang, sekaligus pesimisme terhadap jalan diplomasi di tengah terus berlangsungnya serangan yang mereka klaim berasal dari AS dan Israel.
Sementara perang kata-kata terus berlangsung, laporan dari lapangan menunjukkan bahwa Iran terus melancarkan serangan baru ke sejumlah negara di kawasan Teluk Persia. Eskalasi militer yang nyata ini telah melampaui retorika, memberikan dampak langsung pada pasar komoditas dunia dengan mendorong lonjakan harga minyak dan menambah ketidakpastian pada perekonomian global yang sudah rapuh.
Artikel Terkait
AS Relokasi Sistem THAAD dari Korea ke Timur Tengah, Responsi Serangan Iran
Iran Tegaskan Tutup Jalur Diplomasi dengan AS, Ketegangan Ancam Pasokan Minyak Global
Alarm Salat Ramadan Picu Pendaratan Darurat Pesawat Southwest Airlines
Media Iran Klaim Netanyahu Tewas, Israel Bantah Sebagai Perang Informasi