PARADAPOS.COM - Paus Leo XIV secara resmi memberhentikan Uskup San Diego, Emanuel Shaleta, dari jabatannya menyusul serangkaian tuduhan kejahatan keuangan dan perilaku tidak pantas. Pengunduran diri uskup berusia 69 tahun itu diterima pada Selasa (11/3/2026), bertepatan dengan pembebasannya dari penjara setelah membayar jaminan. Shaleta menghadapi dakwaan penggelapan dan pencucian uang yang diduga merugikan keuangan gereja hingga ratusan ribu dolar, serta didakwa sering mengunjungi rumah bordil di Tijuana, Meksiko.
Pengunduran Diri di Tengah Proses Hukum
Vatikan mengumumkan bahwa Paus telah menerima pengunduran diri Uskup Emanuel Hana Shaleta dari perawatan pastoral Eparki Santo Petrus Rasul di San Diego. Pengumuman ini keluar di hari yang sama ketika Shaleta akhirnya dibebaskan dari Penjara Kabupaten San Diego setelah membayar uang jaminan sebesar $125.000.
Sebelumnya, pada Senin (10/3), Shaleta telah menyatakan tidak bersalah atas 15 dakwaan yang menjeratnya, termasuk delapan tuduhan penggelapan, delapan tuduhan pencucian uang, dan satu tuduhan peningkatan kejahatan kerah putih. Ia ditangkap di Bandara Internasional San Diego pada 6 Maret saat berusaha terbang ke Jerman dengan membawa lebih dari $9.000 tunai.
Dugaan Penyimpangan Keuangan Gereja
Kasus ini mulai terbuka setelah seorang pejabat dari Gereja Kaldea St. Peter di El Cajon melaporkan kejanggalan keuangan kepada Sheriff Kabupaten San Diego pada Agustus 2025. Investigasi yang menyusul mendapati adanya aliran dana yang mencurigakan.
Penyidik menduga setidaknya $427.000 uang gereja telah diselewengkan, dengan kemungkinan total kerugian bisa mencapai satu juta dolar. Uang sewa dari properti gereja diduga dialihkan untuk kepentingan pribadi dan kemudian ditutupi dengan menggunakan dana amal.
Di tengah tudingan itu, Shaleta membela diri. Dalam pernyataannya di pengadilan, ia bersikeras pada integritasnya.
“Saya tidak pernah — dalam kehidupan keuskupan saya — menggunakan satu sen pun dari uang gereja,” tegasnya. “Sebaliknya: Saya telah melakukan yang terbaik untuk melestarikan dan mengelola donasi,” lanjut Shaleta, seraya menambahkan, “Anda adalah satu-satunya yang bisa mempercayai saya dan membela integritas saya dalam urusan keuangan gereja dan dalam kehidupan.”
Kunjungan ke Rumah Bordil dan Dukungan dari Kalangan Tertentu
Selain masalah keuangan, reputasi Shaleta tercorek oleh laporan kunjungan rutinnya ke sebuah rumah bordil di Tijuana, Meksiko. Investigasi swasta mendokumentasikan bahwa prelat itu menggunakan shuttle eksklusif untuk mengunjungi Hong Kong Gentleman’s Club di distrik lampu merah Zona Norte, sebuah kawasan yang kerap menjadi sorotan organisasi anti-perdagangan manusia. Meski demikian, Shaleta tidak dituduh terkait aktivitas perdagangan manusia.
Meski tuduhannya berat, sidang Senin lalu diwarnai kehadiran sejumlah pendukungnya yang memadati ruang pengadilan. Salah satu pendukung vokalnya adalah Kardinal Louis Raphaël Sako, Patriark Baghdad bagi umat Kaldea, yang bahkan mengusulkan agar Shaleta ditempatkan di markas gereja di Baghdad selama penyelidikan. Menariknya, dalam pengumuman terpisah, Vatikan juga menyatakan menerima pengunduran diri Kardinal Sako dari posisinya sebagai kepala Gereja Katolik Kaldea.
Jalur Karier dan Penerus Sementara
Uskup Emanuel Shaleta, yang berasal dari Irak, ditahbiskan menjadi imam oleh Paus Yohanes Paulus II pada 1984 dan pernah bertugas di Detroit dan Kanada. Paus Fransiskus kemudian menunjuknya untuk memimpin eparki di San Diego pada 2017. Kini, dengan posisinya yang menjadi sede vacante (takhta kosong), Vatikan menunjuk Uskup Saad Hanna Sirop sebagai administrator sementara yang akan mengatur eparki hingga keputusan lebih lanjut.
Kasus ini mengguncang komunitas Katolik Kaldea di Amerika Serikat, menimbulkan pertanyaan tentang akuntabilitas dan pengawasan keuangan di tingkat keuskupan. Proses hukum terhadap Shaleta diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Artikel Terkait
AS Akui Keliru Abaikan Tawaran Bantuan Anti-Drone Ukraina Jelang Ketegangan dengan Iran
Hizbullah dan Iran Lancarkan Serangan Roket Besar-besaran ke Israel Utara
Investigasi AS Konfirmasi Serangan Rudal Hancurkan Sekolah Dasar di Iran Akibat Data Intelijen Usang
Pemimpin Baru Iran Belum Tampil, Kondisi Kesehatan Dipertanyakan