PARADAPOS.COM - Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah seorang pejabat senior militer Iran memperingatkan bahwa Teheran akan segera memperkenalkan sistem persenjataan maritim canggih jika Amerika Serikat meningkatkan tekanan di kawasan tersebut. Peringatan ini disampaikan di tengah kebuntuan negosiasi nuklir dan ancaman perluasan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang berpotensi memicu konflik berskala lebih luas.
Peringatan dari Garda Revolusi: Teknologi Penargetan Cerdas
Mohammad Akbarzadeh, asisten politik komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan sistem maritim baru yang mencakup apa yang ia sebut sebagai “teknologi penargetan cerdas.” Menurut laporan yang beredar, pengumuman ini merupakan respons langsung terhadap apa yang digambarkannya sebagai potensi “kesalahan strategis” lain dari Washington.
“Kapal perang raksasa AS akan terbakar dan tidak dapat digunakan jika ada agresi yang dilancarkan terhadap Iran,” ujarnya dengan nada tegas.
Akbarzadeh juga menambahkan bahwa respons Iran tidak akan terbatas pada kekuatan militernya sendiri. Ia menekankan bahwa “daya yang tersisa” dalam Poros Perlawanan akan diaktifkan jika eskalasi terus berlanjut. Pernyataan ini muncul bersamaan dengan serangan rudal Houthi dari Yaman yang menghantam dekat Bandara Ben Gurion di Tel Aviv beberapa waktu lalu.
Kemampuan Militer yang Belum Sepenuhnya Dikerahkan
Para pejabat senior Iran lainnya juga angkat bicara. Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi menegaskan bahwa Teheran belum mengerahkan seluruh kemampuan militernya. Ia menyebut bahwa setiap agresi baru akan dibalas dengan sistem yang baru dikembangkan, yang rencananya akan diperkenalkan pada Januari 2026.
Naqdi juga menyoroti persenjataan rudal dan drone canggih yang dimiliki Iran. Ia menekankan bahwa pasukan darat negara itu masih menjadi komponen utama kekuatan yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. “Kami masih memegang kartu penting dan unggul,” katanya.
Menanggapi klaim bahwa kekuatan angkatan laut Iran telah melemah, Naqdi justru balik bertanya. “Kalau musuh sudah melenyapkannya, kenapa mereka tidak bisa membuka Selat Hormuz?” ujarnya, menegaskan bahwa kemampuan angkatan laut Iran tetap utuh dan efektif.
Tekanan dari Washington: Blokade dan Ancaman Baru
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak Iran untuk segera bertindak. Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengatakan Iran sebaiknya “segera menjadi pintar” dan menandatangani kesepakatan. Ia menekankan bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump telah menginstruksikan para pembantunya untuk mempersiapkan perluasan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini disebut sebagai upaya untuk menekan perekonomian dan ekspor minyak Iran. Para pejabat AS menilai bahwa opsi blokade ini membawa risiko lebih kecil dibandingkan melanjutkan pengeboman atau justru mundur dari konflik.
“Mereka tidak tahu cara menandatangani perjanjian non-nuklir. Sebaiknya mereka segera menjadi pintar!” tulis Trump dalam postingannya, tanpa merinci lebih lanjut bentuk kesepakatan yang dimaksud.
Kebuntuan Negosiasi dan Dampak Regional
Iran sendiri menginginkan pengakuan AS atas haknya untuk memperkaya uranium untuk tujuan damai. Saat ini, negara itu memiliki cadangan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen—bahan yang cukup untuk beberapa senjata nuklir jika diproses lebih lanjut.
Tawaran terbaru Iran untuk mengakhiri konflik dua bulan terakhir, yang sempat dijeda berdasarkan gencatan senjata pada 8 April, justru mengesampingkan diskusi mengenai program nuklir. Usulan itu baru akan membahas masalah nuklir setelah konflik resmi berakhir dan masalah pelayaran terselesaikan. Namun, tawaran tersebut tidak memenuhi permintaan Trump agar isu nuklir dibahas sejak awal.
Harapan penyelesaian konflik semakin surut setelah Trump membatalkan kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff, dan menantu laki-lakinya, Jared Kushner, ke mediator Pakistan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi justru mengunjungi negara itu dua kali selama akhir pekan.
Pergeseran Kekuasaan di Iran
Situasi politik internal Iran juga turut mempengaruhi sikap negosiasi. Sejak terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang, dan pengangkatan putranya, Mojtaba, sebagai pemimpin tertinggi, kekuasaan lebih banyak beralih ke komandan garis keras IRGC. Para pejabat dan analis Iran menilai bahwa hal ini memperkeras sikap Teheran dalam setiap perundingan.
Dampak Ekonomi dan Pasar Energi
Ketegangan yang berkepanjangan ini mulai terasa di pasar energi. Harga minyak naik hampir 3 persen pada Rabu lalu, dengan kontrak Brent mencapai level tertinggi dalam satu bulan. Kekhawatiran akan perpanjangan blokade pelabuhan Iran memicu spekulasi bahwa gangguan pasokan akan berlangsung lebih lama.
Bank Dunia bahkan memperkirakan harga energi akan melonjak 24 persen pada tahun 2026, mencapai level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina empat tahun lalu, jika gangguan paling akut akibat perang Iran tidak segera mereda.
Di dalam negeri AS, Trump juga menghadapi tekanan. Peringkat dukungan terhadapnya turun ke level terendah dalam masa jabatannya saat ini. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 34 persen warga Amerika yang menyetujui kinerjanya, turun dari 36 persen pada survei sebelumnya. Banyak warga yang kecewa dengan penanganan biaya hidup dan perang yang tidak populer.
Konflik ini telah menewaskan ribuan orang, membuat pasar energi bergejolak, dan mengganggu jalur perdagangan global. Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Trump Perintahkan Blokade Pelabuhan Iran di Selat Hormuz Setelah Perundingan Damai Buntu
Trump Tolak Usulan Iran Tunda Pembahasan Nuklir, Negosiasi Perdamaian Kian Buntu
Kanselir Jerman Kecam Iran yang Dianggap Permalukan AS, Soroti Gagalnya Diplomasi Washington di Pakistan
Pria Bersenjata Terobos Pengamanan Acara Trump di Washington Hilton, Tinggalkan Manifesto 1.052 Kata