Kuburan Massal Agam 2025: Tragedi Galodo dan Duka 33 Korban di Kampung Tengah

- Kamis, 04 Desember 2025 | 15:25 WIB
Kuburan Massal Agam 2025: Tragedi Galodo dan Duka 33 Korban di Kampung Tengah
Kuburan Massal di Agam: Duka Warga Kampung Tengah Usai Tragedi Galodo 2025

Kuburan Massal di Agam: Duka Warga Kampung Tengah Usai Tragedi Galodo 2025

Lokasi pemakaman massal korban tragedi galodo di Kampung Tengah, Kabupaten Agam. (Foto: Ilustrasi)

Bau lumpur dan duka menyelimuti Kampung Tengah, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sebuah lahan kosong berubah menjadi tempat peristirahatan terakhir puluhan korban banjir bandang dan longsor (galodo) yang melanda pada akhir November 2025.

Dengan peralatan seadanya, warga terpaksa mengambil keputusan berat: memakamkan jenazah secara massal untuk mencegah pembusukan dan wabah penyakit. Sejak Sabtu, 29 November 2025, mereka bergantian menggali liang lahat di tanah yang lembek.

Kondisi Jenazah yang Memilukan dan Proses Pemakaman

Seorang warga, Ium, mengungkapkan kepiluan yang mendalam. "Hingga Kamis (4/12/2025), sekitar 33 jenazah sudah dimakamkan. Ada yang satu lubang itu 20 jenazah. Ada yang tidak lengkap organ tubuhnya. Daripada busuk, kami kuburkan cepat," tuturnya.

Proses identifikasi berjalan sangat sulit. Banyak jenazah ditemukan dalam kondisi tidak utuh. "Ada yang tinggal pahanya saja… ada yang terpotong arus," kata Ium lirih. Bahkan, dua jenazah terpaksa dimakamkan tanpa identitas karena tidak ada keluarga yang mampu mengenali.

Solidaritas di Tengah Kepiluan

Di lokasi pemakaman, warga bekerja tanpa lelah. Ada yang mencangkul, mengangkat kantong jenazah, dan ada yang berdoa di tepi liang lahat. Pemandangan ini menunjukkan kesedihan sekaligus keteguhan masyarakat yang saling menguatkan.

Pemakaman massal ini adalah babak duka dari tragedi panjang. Proses evakuasi masih berlangsung di titik-titik sulit dan jumlah korban diperkirakan masih bisa bertambah.

Gundukan tanah basah di Kampung Tengah kini menjadi monumen tanpa nama, mengingatkan betapa dahsyatnya kekuatan alam dan betapa kuatnya solidaritas manusia di tengah kehancuran.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar