PARADAPOS.COM - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan merasa kecewa dengan cakupan serangan udara yang dilancarkan Israel terhadap fasilitas penyimpanan minyak di Iran akhir pekan lalu. Ketidakpuasan Washington ini menandai ketegangan pertama antara kedua sekutu tersebut pasca serangan terkoordinasi besar-besaran mereka terhadap Iran pada akhir Februari. Serangan Sabtu (7/3/2026) itu memicu kebakaran hebat di Teheran dan menargetkan puluhan depot bahan bakar, sebuah skala yang disebut mengejutkan pihak AS.
Kebakaran Dahsyat dan Asap Tebal Selimuti Ibu Kota
Serangan udara yang dijalankan Angkatan Udara Israel pada Sabtu lalu menghasilkan pemandangan dramatis di langit Teheran. Kobaran api raksasa dilaporkan terlihat dari jarak yang cukup jauh, sementara asap hitam pekat membubung tinggi dan menyelimuti kawasan industri serta area penyimpanan bahan bakar di ibu kota Iran tersebut. Insiden ini secara langsung mengganggu aktivitas dan menarik perhatian dunia internasional.
Menurut laporan, sasaran serangan mencakup sekitar tiga puluh depot minyak yang tersebar di berbagai wilayah Iran. Kerusakan yang ditimbulkan tampak signifikan, menggambarkan intensitas operasi militer yang dilakukan.
Klaim Israel dan Respons Washington
Dalam pernyataan resminya, Angkatan Bersenjata Israel (IDF) membenarkan serangan tersebut. Mereka beralasan bahwa fasilitas yang dihantam merupakan bagian dari jaringan logistik yang digunakan rezim Iran, termasuk untuk mendukung kebutuhan organ militernya.
Pejabat Israel juga mengklaim bahwa operasi ini bertujuan sebagai peringatan keras kepada Tehran agar menghentikan upaya penargetan terhadap infrastruktur sipil Israel. Sebagai bentuk koordinasi, IDF disebutkan telah memberi tahu militer AS sebelum serangan dilaksanakan.
Namun, langkah itu rupanya tidak cukup meredam reaksi negatif dari Washington. Pihak AS, termasuk Presiden Donald Trump, dikabarkan tidak senang dengan besarnya dampak serangan terhadap fasilitas energi tersebut.
Seorang penasihat Trump yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan alasan di balik kekecewaan itu. "Presiden (Trump) tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Dia ingin menyelamatkan minyak, bukan membakarnya. Dan itu mengingatkan orang-orang akan kenaikan harga bensin," tuturnya kepada media Axios.
Retak dalam Koalisi Anti-Iran?
Laporan dari media AS ini mengindikasikan adanya perbedaan pendekatan strategis antara Washington dan Tel Aviv dalam menekan Iran. Meski baru-baru ini berkolaborasi dalam serangan besar, respons terhadap aksi Israel kali ini menunjukkan batasan yang coba diterapkan oleh administrasi Trump. Kekhawatiran terhadap gejolak pasar minyak dunia dan sentimen domestik terhadap harga bahan bakar disebut menjadi pertimbangan utama di pihak Amerika.
Insiden ini menyoroti kompleksitas dinamika hubungan kedua negara sekutu itu, di mana kepentingan keamanan jangka pendek terkadang berbenturan dengan pertimbangan ekonomi dan strategis yang lebih luas. Perkembangan lebih lanjut dari gesekan internal koalisi anti-Iran ini akan terus dipantau oleh pengamat hubungan internasional.
Artikel Terkait
Mendagri Dorong Sistem Pajak Daerah Digital untuk Cegah Kebocoran dan Perkuat PAD
Kuasa Hukum Yaqut Klaim Penetapan Tersangka oleh KPK Cacat Prosedur
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp90 Ribu per Kg di Pasar Jambi Jelang Lebaran
Pemerintah Buka 10 Ruas Tol Fungsional Gratis untuk Mudik Lebaran 2026