PARADAPOS.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyerukan ketenangan kepada masyarakat dan pelaku pasar menyusul pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada Senin (9/3/2026). Dalam pernyataannya di Jakarta, Purbaya menegaskan fondasi ekonomi nasional masih kuat dan ekspansif, sehingga jauh dari kondisi resesi atau krisis. Pernyataan ini disampaikan untuk meredam kekhawatiran di tengah gejolak pasar finansial.
Menkeu Tegaskan Fondasi Ekonomi Masih Kuat
Di hadapan para wartawan, Purbaya dengan tegas menyampaikan optimisme pemerintah. Ia menekankan bahwa upaya menjaga daya beli masyarakat dan momentum pertumbuhan ekonomi menjadi prioritas utama dalam beberapa minggu ke depan.
"Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kami jaga mati-matian. Boro-boro krisis, resesi aja belum, melambat saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kami jaga terus dalam beberapa minggu ke depan," jelasnya.
Data pasar pada hari itu memang menunjukkan tekanan. IHSG tercatat merosot 248,32 poin (3,27 persen) ke level 7.337,37, sementara indeks LQ45 turun 3,28 persen. Nilai tukar rupiah juga melemah, ditutup pada Rp16.949 per dolar AS setelah sempat terdepresiasi lebih dalam sepanjang sesi perdagangan.
Belajar dari Pengalaman Krisis Sebelumnya
Purbaya mengajak semua pihak melihat kondisi saat ini dengan perspektif yang lebih luas. Pemerintah, ungkapnya, memiliki modal berharga berupa pengalaman menavigasi berbagai gejolak ekonomi besar, mulai dari krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008, hingga dampak pandemi Covid-19 pada 2020.
Pengalaman tersebut diyakini menjadi fondasi untuk menyusun langkah-langkah mitigasi yang efektif menghadapi potensi gejolak. Keyakinan ini pula yang ingin disampaikannya kepada para investor.
"Jadi, investor di pasar saham nggak usah takut. Fondasi kami jaga betul. Pengalaman 2008, 2020, kita bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," tutur Purbaya.
Respons Terhadap Tekanan Eksternal dan Daya Beli
Optimisme Menkeu bukan tanpa dasar. Sebelumnya, ia bahkan melakukan inspeksi dadakan ke Pasar Tanah Abang, Jakarta, untuk memastikan kondisi riil di lapangan. Hasilnya, menurutnya, justru menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga dan spekulasi menuju resesi tidak terbukti.
Menghadapi faktor eksternal seperti konflik geopolitik yang berpotensi mendorong harga minyak dunia, Purbaya menyatakan kesiapan pemerintah. APBN akan difungsikan sebagai shock absorber atau peredam gejolak.
Kebijakan fiskal, lanjutnya, akan disiapkan semaksimal mungkin untuk meredam dampak lonjakan harga jika sudah di luar kendali. Untuk saat ini, ia menegaskan belum ada rencana menaikkan harga BBM bersubsidi karena anggaran dinilai masih cukup menampung tekanan yang ada. Langkah-langkah ke depan akan diambil dengan penuh kehati-hatian, berpedoman pada data dan pengalaman yang dimiliki.
Artikel Terkait
Longsor Sampah di TPST Bantargebang Tewaskan 6 Orang
Falsafah Waja Sampai Kaputing dari Banjar Digali untuk Perkuat Karakter Generasi Muda
Militer Israel Klaim Serang Depot Bahan Bakar Militer Iran
Bank Mantap Gelar 913 Kegiatan untuk 45.000 Pensiunan Lewat Program Mantap Aktif