KSAD Maruli Simanjuntak Sindir Donatur Bencana di Sumatra: "Tak Perlu Spanduk Segede Gaban"
PARADAPOS.COM – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak secara terbuka mengkritik fenomena pencitraan dalam penyaluran bantuan bencana, khususnya di wilayah Sumatra. Pernyataan ini menyoroti tindakan sejumlah donatur yang lebih mementingkan atribut dan publikasi daripada kontribusi nyata.
Bantuan Seremonial vs Aksi Nyata di Lokasi Bencana
Maruli mengungkapkan, sering ditemui pihak-pihak yang datang ke lokasi bencana dengan spanduk dan identitas organisasi yang sangat mencolok. Namun, kehadiran mereka kerap tidak diikuti dengan keterlibatan langsung dalam mendistribusikan bantuan kepada korban yang membutuhkan.
“Datang membawa nama besar, tapi yang menyalurkan justru orang lain,” ujar Maruli, seperti dikutip dari liputan6.com (8/1/2026).
Setelah sesi dokumentasi dianggap cukup, bantuan justru ditinggalkan untuk disalurkan oleh relawan atau pihak lain di lapangan.
Esensi Bantuan Kemanusiaan: Cepat, Tepat, dan Ikhlas
KSAD menegaskan bahwa prinsip utama bantuan kemanusiaan adalah kecepatan, ketepatan sasaran, dan keikhlasan. Bantuan seharusnya berfokus pada penderitaan korban, bukan pada penguatan citra atau kepentingan tertentu.
“Bantuan itu bisa diserahkan tanpa izin, tanpa ribut, dan tanpa klaim berlebihan. Yang penting sampai ke masyarakat,” tegas Maruli.
Dalam situasi darurat, yang dibutuhkan masyarakat terdampak adalah kehadiran dan kepedulian yang tulus, bukan dominasi logo atau nama organisasi pada spanduk besar.
TNI AD dan Komitmen Kerja Nyata Tanpa Pencitraan
Sebagai institusi yang rutin terlibat dalam penanganan bencana, TNI AD disebut selalu mengedepankan kerja konkret di lapangan. Mulai dari distribusi logistik, evakuasi, hingga pemulihan pascabencana dilakukan tanpa klaim berlebihan.
Kritik dari KSAD ini diharapkan menjadi pengingat bagi semua pihak, baik individu maupun lembaga, untuk menempatkan nilai kemanusiaan di atas segala-galanya. Bantuan bencana bukanlah panggung untuk pertunjukan, melainkan wujud solidaritas untuk meringankan beban sesama.
Pernyataan KSAD Maruli Simanjuntak ini pun mendapatkan respons luas dari publik, seiring dengan meningkatnya tuntutan transparansi dan ketulusan dalam setiap aksi sosial dan kemanusiaan.
Artikel Terkait
ICW Minta KPK Awasi Ketat Skema Triliunan Rupiah di Program Gizi Polri
Ibu Bakar Anak Kandung di Sumbawa Usai Cekcok Soal Pakan Ternak
Pakar Prediksi Kasus Emas Ilegal Rp25,8 Triliun Bakal Jerat Banyak Pihak
Penerima Beasiswa LPDP Diblacklist dan Wajib Kembalikan Dana Usai Unggahan Kontroversial