KSAD menegaskan bahwa prinsip utama bantuan kemanusiaan adalah kecepatan, ketepatan sasaran, dan keikhlasan. Bantuan seharusnya berfokus pada penderitaan korban, bukan pada penguatan citra atau kepentingan tertentu.
“Bantuan itu bisa diserahkan tanpa izin, tanpa ribut, dan tanpa klaim berlebihan. Yang penting sampai ke masyarakat,” tegas Maruli.
Dalam situasi darurat, yang dibutuhkan masyarakat terdampak adalah kehadiran dan kepedulian yang tulus, bukan dominasi logo atau nama organisasi pada spanduk besar.
TNI AD dan Komitmen Kerja Nyata Tanpa Pencitraan
Sebagai institusi yang rutin terlibat dalam penanganan bencana, TNI AD disebut selalu mengedepankan kerja konkret di lapangan. Mulai dari distribusi logistik, evakuasi, hingga pemulihan pascabencana dilakukan tanpa klaim berlebihan.
Kritik dari KSAD ini diharapkan menjadi pengingat bagi semua pihak, baik individu maupun lembaga, untuk menempatkan nilai kemanusiaan di atas segala-galanya. Bantuan bencana bukanlah panggung untuk pertunjukan, melainkan wujud solidaritas untuk meringankan beban sesama.
Pernyataan KSAD Maruli Simanjuntak ini pun mendapatkan respons luas dari publik, seiring dengan meningkatnya tuntutan transparansi dan ketulusan dalam setiap aksi sosial dan kemanusiaan.
Artikel Terkait
Profil Eny Retno, Istri Gus Yaqut: 21 Tahun Setia & Latar Belakang IPB
Korupsi Tambang & Sawit Rugikan Negara Rp186,48 Triliun, Pemerintah Gunakan AI
Ustaz Abdul Somad Unggah Penolakan Ceramah oleh Ansor, Bertepatan Gus Yaqut Jadi Tersangka Korupsi Haji
Ayah Prada Lucky Ditangkap TNI: Kronologi KDRT, Penyebab, dan Penjelasan Resmi