Analisis dari Sugi Nur Raharja atau Gus Nur tampaknya tepat. Ia menduga pertemuan di rumah Jokowi memang dirancang diam-diam, namun pihak Jokowi justru diuntungkan dengan membocorkannya. Penjelasan tujuan kedatangan Eggi pun menjadi simpang siur, bahkan menggunakan analogi Musa dan Harun yang menemui Firaun.
Manuver Eggi berlanjut dengan memecat hampir semua pengurus Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), seperti Rizal Fadillah, Azam Khan, dan Tri Kurnia. Namun, tindakan ini memicu reaksi karena nama Habib Rizieq Shihab sebagai pendiri dan penasihat disebut-sebut. Dinamika ini membuat Eggi dipandang sebagai "tukang olah yang diolah".
Target utama Eggi diduga kuat adalah terbitnya SP3. Setelah dokumen itu diperoleh, sikapnya seolah berubah. Ia bahkan memberikan pesan khusus kepada Roy Suryo untuk melanjutkan perjuangan sebelum terbang ke luar negeri.
Eggi pun tampak enggan mengakui bahwa ia meminta maaf, apalagi mengakui keaslian ijazah Jokowi seperti klaim para relawan. Ia tidak ingin terlihat sebagai pesakitan atau pecundang. Pertanyaan besar kini adalah apakah SP3 yang telah terbit dapat ditarik kembali? Sebagai pengacara senior, Eggi paham betul celah hukumnya. Setelah serangkaian peristiwa ini, statusnya sebagai pemenang atau bukan masih menjadi tanda tanya.
(Direktur ABC Riset & Consulting)
Artikel Terkait
Guru SD di Tangsel Diduga Cabuli Belasan Murid, Ini Kronologi dan Langkah Hukumnya
Prabowo Cabut Izin PT Toba Pulp Lestari: 28 Perusahaan Kena Sanksi Atas Pelanggaran Hutan
Kecelakaan Pesawat ATR di Maros: Basarnas Yakin Tak Ada Korban Selamat, Tetap Berharap Mukjizat
Smartwatch Kopilot Farhan Gunawan Masih Aktif, Catat 4000 Langkah Setelah Kecelakaan ATR 42-500