PARADAPOS.COM - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menghadapi serangan personal dan kampanye negatif masif di media sosial. Gelombang serangan ini dipicu oleh kritiknya terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. Tiyo difitnah sebagai bagian dari komunitas LGBT melalui narasi dan konten yang menyebar luas, sebuah tuduhan yang ia bantah tegas sambil mengecam upaya pembungkaman suara kritis melalui cara-cara tidak etis.
Kritik Kebijakan yang Berujung Fitnah
Persoalan bermula ketika Tiyo Ardianto, selaku perwakilan mahasiswa, menyampaikan evaluasi kritis terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis. Kritiknya berfokus pada aspek anggaran dan efektivitas program, yang merupakan bagian dari fungsi pengawasan mahasiswa terhadap kebijakan publik. Namun, alih-alih mendapatkan tanggapan substantif atas argumennya, Tiyo justru mendapat serangan balik yang bersifat personal dan merendahkan.
Dalam hitungan hari, wajahnya dicatut dalam narasi-narasi berjudul seperti "Awas LGBT di UGM" yang disebarkan oleh akun-akun tidak jelas. Kampanye hitam ini dengan cepat menyulut komentar negatif dan menyeret nama pribadinya ke dalam perbincangan yang sama sekali di luar konteks diskusi kebijakan.
Pernyataan Tegas dan Penolakan Framing
Menghadapi situasi yang semakin tidak nyaman, Tiyo Ardianto akhirnya angkat bicara untuk meluruskan fakta. Ia menyatakan bahwa serangan yang mengait-ngaitkan orientasi seksualnya adalah tindakan yang tidak pantas dan tidak berdasar.
"Mohon maaf saya terangkan di sini. Saya memang tidak punya kekasih, saya tidak punya cewek atau pacar," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa status lajangnya adalah pilihan personal yang tidak boleh disalahgunakan untuk membangun framing negatif. "Tapi bukan karena saya tidak punya pacar, lalu bisa seenaknya di-framing seperti itu," tegasnya lagi dengan nada kesal.
Pola Intimidasi yang Sistematis
Lebih dari sekadar serangan di dunia maya, Tiyo mengungkapkan bahwa ia sempat merasakan bentuk intimidasi lain. Ia merasa dibuntuti oleh orang tak dikenal di sebuah tempat umum, sebuah pengalaman yang menambah daftar tekanan yang ia terima. Bagi aktivis kampus ini, rangkaian kejadian ini bukanlah kebetulan, melainkan pola sistematis untuk membungkam kritik.
Ia melihatnya sebagai upaya mengalihkan isu dari substansi kritik kebijakan ke ranah privasi yang sensitif. Meski mendapat tekanan, Tiyo menyatakan komitmennya untuk tetap menyuarakan pengawasan terhadap kebijakan publik, yang ia yakini sebagai bagian dari peran mahasiswa untuk kepentingan masyarakat.
Dampak dan Respons dari Lingkungan Kampus
Serangan terhadap Tiyo Ardianto ini turut disayangkan oleh lingkungan internal BEM UGM. Cara-cara yang digunakan dinilai tidak mencerminkan semangat debat sehat dan justru meracuni iklim diskusi kritis di kampus. Insiden ini menyoroti kerentanan figur publik, termasuk pemimpin mahasiswa, terhadap kampanye fitnah digital yang dapat dengan cepat merusak reputasi.
Di balik kontroversi personal, pertanyaan mendasar tentang akuntabilitas program Makan Bergizi Gratis yang semula dikritik Tiyo, sayangnya, justru semakin tenggelam. Kasus ini menjadi pengingat betapa mudahnya diskusi substantif tentang kebijakan publik terganggu oleh narasi-narasi yang bersifat emosional dan ad hominem.
Artikel Terkait
Studi: Program Makan Bergizi Gratis Berpotensi Buang Anggaran Rp1,27 Triliun per Pekan
Ketua Fraksi Golkar Desak Evaluasi Syarat Beasiswa LPDP untuk Perluas Akses Masyarakat Kurang Mampu
Indef Soroti Payback Period Proyek Kereta Cepat Whoosh: Bisa Lebih dari 100 Tahun
DPR Godok Revisi UU Penyiaran, Industri Kreatif Khawatir Regulasi Internet Hambat Pertumbuhan