Krisis Energi Lumpuhkan Kuba, Trump Siap Ambil Alih di Tengah Kecaman Internasional

- Senin, 13 April 2026 | 09:25 WIB
Krisis Energi Lumpuhkan Kuba, Trump Siap Ambil Alih di Tengah Kecaman Internasional

PARADAPOS.COM - Havana, Maret 2026. Selama berbulan-bulan, gelombang krisis energi parah telah melumpuhkan kehidupan di Kuba. Jalan-jalan di ibu kota kerap tenggelam dalam gelap saat malam, pendingin ruangan mati, dan aktivitas ekonomi tersendat. Di balik kesulitan yang mendera 11 juta penduduknya, mantan Presiden AS Donald Trump justru menyatakan akan memiliki "kehormatan untuk mengambil alih Kuba". Situasi ini memicu kecaman luas dari komunitas internasional, yang menilai embargo bahan bakar Amerika Serikat sebagai pelanggaran hukum internasional dan pemicu krisis kemanusiaan.

Kecaman Internasional dan Hegemoni AS

Tekanan terhadap Kuba semakin memuncak pada April 2026. Sejumlah negara di Jenewa secara kolektif menyerukan pencabutan blokade dan pengepungan energi terhadap pulau tersebut. Sebuah lembaga studi internasional bahkan memperingatkan bahwa kebijakan AS sedang mendorong Kuba menuju ambang "keruntuhan kemanusiaan". Dukungan solidaritas, seperti dari Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, pun mengalir. Namun, di hadapan kekuatan ekonomi dan militer Amerika Serikat yang dominan di kawasan, semua kecaman itu seolah tak berdaya. Hegemoni negara adidaya itu terasa begitu kuat, membuatnya dengan mudah mengabaikan kritik dan norma hukum internasional.

Runtuhnya Ketahanan Pangan di Lapangan

Dampak paling nyata terasa di sektor pertanian, tulang punggung ketahanan pangan Kuba. Di wilayah timur, para petani menghadapi situasi yang memilukan. Bukan karena kemalasan atau gagal panen, melainkan karena kelangkaan bahan bakar, suku cadang, dan sarana produksi paling dasar yang membuat seluruh sistem produksi kolaps.

Seorang petani dengan nada pasrah menggambarkan, "Ladang sudah siap dipanen, tetapi tidak ada solar untuk mengangkut hasil panen." Petani lain menunjukkan mesin-mesin rusak yang tak kunjung diperbaiki sehingga mangkrak. Bahkan alat yang masih berfungsi pun tak bisa digunakan karena tak ada bahan bakar.

Akibatnya berantai. Sistem irigasi mengering, masa tanam tertunda, dan hasil panen membusuk di ladang. Rantai distribusi pun putus karena truk-truk tak bisa beroperasi. Makanan segar dari pedesaan gagal mencapai pasar di perkotaan, meninggalkan masyarakat dalam kelangkaan.

Lumpuhnya Rantai Nilai dan Batas Ketahanan

Krisis ini merambat ke industri pengolahan. Tomat, salah satu komoditas musiman yang melimpah, terpaksa dibiarkan membusuk dalam tumpukan karena pasokan listrik untuk pabrik pengolahan kerap padam. Situasi ini mempertanyakan batas ketahanan sebuah bangsa.

Petani Kuba sebenarnya dikenal tangguh. Mereka telah mengadopsi pertanian ekologis, mengandalkan tenaga hewan, dan menguatkan model koperasi. Namun, semua kreativitas dan ketangguhan itu ada batasnya. Inovasi lokal tak bisa menggantikan bahan bakar yang tidak kunjung tiba, mesin yang tak tersedia suku cadangnya, atau pasar yang tak terjangkau. Yang terjadi bukan sekadar krisis pertanian, melainkan sebuah krisis kemanusiaan yang sistematis.

Logika Kebijakan yang Mengorbankan Rakyat Sipil

Yang lebih memprihatinkan adalah sikap dingin sebagian pembuat kebijakan di AS terhadap penderitaan ini. Seolah mengonfirmasi keprihatinan banyak pengamat, seorang anggota Kongres AS secara terbuka menyatakan bahwa penderitaan warga sipil dianggap sebagai harga yang harus dibayar.

Maria Elvira Salazar, Anggota Kongres dari Partai Republik Florida, dengan gamblang mengungkapkan, "Demi pergantian rezim, saya menganggap membiarkan ibu dan anak menderita adalah hal yang sepadan."

Pernyataan itu menguatkan analisis banyak pengamat kebijakan luar negeri. Tujuan sebenarnya dari tekanan AS terhadap Kuba, sebagaimana dilaporkan sejumlah media, bukanlah pergantian rezim secara radikal, melainkan penciptaan kepatuhan. Intinya adalah memaksa Kuba memiliki kepemimpinan yang lebih kooperatif dengan kepentingan bisnis AS, bukan menjamin demokrasi atau kesejahteraan riil rakyatnya. Dalam perspektif ini, kelaparan dan penyakit di Kuba bisa dilihat hanya sebagai collateral damage atau bahkan alat negosiasi untuk memuaskan agenda politik tertentu.

Pertanyaan Besar bagi Tata Dunia

AS seringkali menempatkan diri sebagai penjaga "tatanan internasional berbasis aturan". Namun, ketika sebuah negara adidaya mencekik kehidupan suatu bangsa dengan blokade ekonomi menyeluruh, yang terlihat justru wajah hegemoni dan kekacauan, bukan penegakan aturan. Insiden di Kuba menjadi preseden berbahaya. Jika komunitas internasional membiarkan penggunaan kelaparan sebagai senjata politik, maka apa yang terjadi di Havana hari ini berpotensi terulang di negara lain yang berani mengambil jalan berbeda besok. Krisis ini pada akhirnya bukan hanya ujian bagi ketahanan Kuba, melainkan juga ujian bagi prinsip-prinsip kemanusiaan dan kedaulatan dalam hubungan internasional.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar