Pengasuh Ponpes di Pati Mangkir dari Panggilan Polisi, Diduga Kabur Usai Cabuli Puluhan Santriwati

- Selasa, 05 Mei 2026 | 13:25 WIB
Pengasuh Ponpes di Pati Mangkir dari Panggilan Polisi, Diduga Kabur Usai Cabuli Puluhan Santriwati
PARADAPOS.COM - Tersangka kasus pencabulan puluhan santriwati di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Pati, Jawa Tengah, hingga Senin malam, 4 Mei 2026, mangkir dari panggilan pemeriksaan polisi. Pengasuh pondok berinisial A itu diduga telah melarikan diri atau bersembunyi untuk menghindari proses hukum. Polresta Pati kini mengancam akan melakukan penangkapan paksa jika tersangka tetap tidak kooperatif.

Mangkir dari Panggilan, Tersangka Diduga Kabur

Tersangka A, yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, tidak kunjung datang ke Polresta Pati sesuai jadwal pemeriksaan yang telah ditentukan. Padahal, sebelumnya Kapolresta Pati Kombes Jaka Wahyudi sempat memberikan jaminan bahwa tersangka A tidak akan melarikan diri dan akan bersikap kooperatif selama proses hukum berjalan. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Ketidakhadiran pengasuh pondok pesantren itu menimbulkan tanda tanya besar. Terlebih, menurut keterangan pengacara maupun keluarganya, tersangka A tidak dapat dihubungi sama sekali. “Kami panggil keluarga si A untuk mencari dan membujuk yang bersangkutan, namun tersangka A juga tidak dapat dihubungi (lost contact),” ungkap Kepala Satuan Reskrim Polresta Pati Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama, Selasa, 5 Mei 2026.

Polisi Libatkan Keluarga, Ancaman Penangkapan

Dalam upaya mengusut kasus pencabulan ini, penyidik telah melibatkan keluarga tersangka untuk meminta A hadir dalam pemeriksaan. Namun, hingga saat ini upaya tersebut belum membuahkan hasil karena jejak tersangka benar-benar hilang. Menghadapi kondisi yang semakin pelik, polisi tidak tinggal diam. Mereka akan mengambil langkah hukum lain jika tersangka tetap tidak mengindahkan panggilan. “Apabila yang bersangkutan tidak kooperatif dan terdapat indikasi melarikan diri, maka akan melakukan penangkapan,” tegas Kompol Dika. Suasana di sekitar pondok pesantren kini tampak sepi. Setelah ditutupnya Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, nasib ratusan santri dan santriwati yang sudah dipulangkan masih belum jelas. Mereka masih duduk di bangku sekolah, mulai dari tingkat PAUD hingga Madrasah Aliyah (MA).

Nasib 252 Santri, Sebagian Besar Yatim dan Kurang Mampu

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah santri dan santriwati di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo mencapai 252 anak. Sebagian besar dari mereka adalah anak yatim dan berasal dari keluarga tidak mampu. Rinciannya, 4 santri masih belajar di tingkat Raudlatul Athfal, 89 santri di tingkat Madrasah Ibtidaiyah, 91 santri di tingkat SMP, 50 santri di tingkat MA, dan 8 santri lainnya tidak bersekolah atau hanya mondok. “Seluruh santri Ndolo Kusumo yang mukim di pesantren sudah dipulangkan ke rumah masing-masing pada 2 dan 3 Mei 2026,” ujar seorang pengurus Yayasan Ndolo Kusumo. Meskipun nasib para santri hingga kini belum diketahui secara pasti, sejumlah lembaga pendidikan telah menyatakan kesiapan untuk menampung mereka. Lembaga-lembaga tersebut antara lain MI Khoiriyatul Ulum Sitiluhur, MI Matholiun Najah Tlogosari, SMP Al-Akrom Banyuurip, MA Al-Akrom Banyuurip Margorejo, MA Assalafiyah Lahar Gembong, dan MA Khoiriyatul Ulum Trangkil, Kabupaten Pati.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar