PARADAPOS.COM - Polemik antara Habib Rizieq Shihab dan Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman kembali memanas. Dudung secara tegas membantah tudingan bahwa dirinya adalah “Jenderal Baliho” yang disebut-sebut menjadi pembisik Presiden Prabowo Subianto saat melontarkan pernyataan kontroversial soal “kabur ke Yaman”. Bantahan ini disampaikan Dudung di hadapan awak media di Kantor KSP, Jakarta Pusat, pada Selasa (5/5/2026). Ia menegaskan tidak memiliki persoalan pribadi dengan Rizieq dan mengajak semua pihak untuk mengedepankan keteduhan dalam berkomunikasi.
Isu ini berawal dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat merespons kritik terhadap pemerintah. Dalam pidatonya di acara Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4), Prabowo menyinggung narasi “Indonesia Gelap” dan menyebut agar para pengkritiknya “pergi ke Yaman”. Ucapan itu sontak memicu reaksi luas di ruang publik dan menjadi bahan perdebatan di kalangan politisi serta tokoh masyarakat.
Asal-Usul Julukan “Jenderal Baliho”
Istilah “Jenderal Baliho” sendiri bukanlah hal baru dalam dinamika politik nasional. Julukan itu mencuat ketika TNI Angkatan Darat di bawah kepemimpinan Dudung ikut serta dalam penertiban baliho tokoh agama dan politik di sejumlah daerah. Langkah tersebut dinilai sebagian pihak dan kelompok oposisi sebagai tindakan yang terlalu keras terhadap simbol atau atribut tertentu. Dari situlah muncul sindiran politik yang kemudian melekat pada sosok Dudung.
Namun, di sisi lain, para pendukung Dudung berpendapat bahwa penertiban itu semata-mata dilakukan untuk menegakkan aturan ketertiban umum, bukan untuk menyerang kelompok tertentu. Seiring waktu, julukan tersebut terus digunakan dalam percakapan politik, terutama ketika Dudung menyampaikan pandangan yang dianggap tegas terhadap isu-isu keagamaan dan keamanan.
Bantahan Dudung: Tidak Ada Persoalan Pribadi
Menanggapi tudingan Rizieq, Dudung dengan tegas membantah bahwa dirinya berada di balik pernyataan Presiden. Ia menegaskan tidak pernah menjadi pembisik Presiden terkait isu “kabur ke Yaman”. Dudung juga menyebut bahwa tidak ada persoalan pribadi antara dirinya dan Rizieq. Ia mengajak semua pihak untuk mengedepankan keteduhan dalam berkomunikasi dan tidak saling menuduh.
Ditemui awak media di Kantor KSP, Dudung merespons kritik Rizieq atas pernyataan Prabowo. Ia mengingatkan peran ulama yang seharusnya membawa keteduhan bagi umat, bukan justru merendahkan pihak lain.
“Tapi artinya bahwa menurut saya bahwa Pak Rizieq, ya, sudah tualah, sudah sama-sama tua. Ya marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, dengan tidak memprovokasi,” ujar Dudung saat ditemui awak media di Kantor KSP, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
Dudung menyebut gaya penyampaian HRS dalam menyampaikan pesan tidak pernah berubah sejak lama. Ia pun menyinggung bahwa ulama seharusnya tidak melontarkan hal-hal yang tidak baik.
“Kalau dikatakan sebagai ulama, ulama itu yang selalu meneduhkan, ya. Berpikir jernih, matanya tidak pernah merendahkan orang lain, mulutnya tidak menjelekkan orang lain, hatinya juga dia tidak berprasangka buruk kepada orang lain, dan tangannya juga tidak dikotori dengan hal-hal yang tidak baik,” tuturnya.
Dudung yang juga mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini berpesan agar semua pihak dapat menjaga lisan dan hati demi persatuan nasional. Ia meminta seluruh elemen bangsa bersatu di tengah situasi global yang sedang sulit.
“Makanya jaga mata, jaga hati, dan jaga mulut. Ya inilah maksud saya, kita sama-sama anak bangsa yang situasi ini juga tidak baik masalah ekonomi, masalah politik, masalah hukum,” tambah Dudung.
Dudung juga mengimbau agar masyarakat tidak terpengaruh oleh isu-isu yang dapat memecah belah bangsa. Ia meyakini rakyat Indonesia sudah cukup dewasa dalam menangkal hoaks.
Pernyataan Prabowo yang Memicu Polemik
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut soal “pergi ke Yaman” menjadi sorotan publik dan memicu berbagai tafsir di ruang politik nasional. Ucapan tersebut awalnya disampaikan dalam konteks menanggapi kritik dari sejumlah pihak terhadap pemerintah. Dalam pidatonya, ia kembali menyinggung narasi 'Indonesia Gelap' dan 'kabur aja dulu' yang sempat ramai beberapa waktu lalu.
“Ada yang mau kabur. Ada yang mau kabur, kabur aja, kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan,” kata Prabowo.
Prabowo berpendapat orang seperti itu merupakan orang yang tidak objektif melihat realita. Ia menilai mereka telah meminggirkan fakta soal masa depan Indonesia yang menurutnya cerah ke depannya.
“Mau kabur kemana? Hei orang-orang pintar bukalah, bukalah berita, lihat lah. Kita ditempatkan sebagai negara paling aman di dunia sekarang, kabur aja deh, ya kabur aja biar kita enggak gaduh,” ucapnya.
Reaksi Publik dan Tokoh Politik
Pernyataan itu kemudian cepat menyebar di media sosial dan menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat. Sebagian pihak menilai ucapan tersebut sebagai sindiran politik yang bersifat spontan. Namun ada juga yang menilai pernyataan itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di ruang publik. Isu tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan di kalangan politisi dan tokoh masyarakat.
Sejumlah pihak meminta agar pernyataan tersebut tidak dipotong dari konteks pembicaraan secara utuh. Mereka menilai penting untuk memahami latar belakang pernyataan sebelum menarik kesimpulan. Di sisi lain, kritik terhadap pemerintah disebut sebagai bagian dari dinamika demokrasi yang perlu dihargai. Pernyataan Prabowo itu juga dikaitkan dengan respons terhadap narasi politik yang berkembang di media sosial.
Beberapa tokoh menilai ucapan tersebut merupakan bentuk ekspresi dalam merespons kritik yang dianggap berlebihan. Namun, ada pula yang mengingatkan agar komunikasi publik pejabat negara tetap memperhatikan sensitivitas masyarakat. Politisi PDIP Guntur Romli buka suara melalui video di Instagramnya pada Kamis (30/4/2026). Ia mengatakan pidato Prabowo merupakan retorika berbahaya dan menunjukkan sikap antikritik yang dibalut sentimen merendahkan negara sahabat.
“Ada masalah apa Pak Prabowo dengan Yaman? Ini negara Sahabat loh Pak. Gak pernah ada masalah dengan kita. Ada ribuan pelajar Indonesia di Yaman saat ini. Jangan merendahkan,” ujar Guntur Romli.
Polemik ini menunjukkan bahwa setiap pernyataan politik dapat dengan cepat menjadi isu nasional. Hingga kini, perdebatan terkait ucapan tersebut masih menjadi perhatian publik di berbagai platform informasi.
Artikel Terkait
Pengasuh Ponpes di Pati Mangkir dari Panggilan Polisi, Diduga Kabur Usai Cabuli Puluhan Santriwati
Defisit APBN Tembus Rp240,1 Triliun per Maret 2026, Pemerintah Optimistis Pendapatan Meningkat
Ahmad Dhani Bongkar Alasan Cerai Maia Estianty Setelah 20 Tahun Bungkam, Klaim Punya Bukti Perselingkuhan
Prajurit TNI AL Baru Dilantik Ditemukan Tewas di Kapal Perang, Keluarga Tolak Klaim Bunuh Diri dan Desak Autopsi