PARADAPOS.COM - Sebuah laporan yang dirilis pada Mei 2026 oleh Robert Davis mengungkap praktik kontroversial di dalam tubuh Layanan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE). Lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberantas kejahatan lintas negara dan menjaga keamanan perbatasan ini, justru disebut-sebut terlibat dalam bayang-bayang kekerasan terhadap anak. Temuan paling mengejutkan adalah perekrutan perusahaan kontraktor MVM, yang sebelumnya memiliki rekam jejak kelam terkait penyiksaan tahanan di Teluk Guantanamo, untuk menjalankan tugas memeriksa apakah anak-anak imigran mengalami kekerasan. Pengacara Michael Popok dengan tegas menyatakan bahwa langkah ini merupakan bentuk aksi kekerasan terhadap anak yang dilakukan secara sistemik.
Kontraktor Bermasalah di Tengah Krisis Imigrasi
Keputusan ICE untuk menggandeng MVM memicu gelombang kritik tajam. Perusahaan ini memulai kariernya dari kontrak penyiksaan di Guantanamo, dan kini diminta untuk menilai kondisi psikologis anak-anak imigran. Banyak pihak menilai situasi ini sama absurdnya dengan meminta seorang pembakar untuk memeriksa peralatan pemadam kebakaran.
Anak-anak yang menjadi korban dalam situasi ini bukanlah remaja, melainkan balita dan anak berusia lima tahun. Mereka diseret dari sisi keluarga mereka, dijadikan properti dalam pertunjukan politik, bahkan digunakan sebagai tameng manusia untuk memaksa orang tua membuka pintu. Pemerintahan Trump berulang kali menggunakan dalih memberantas imigrasi ilegal untuk merobek-robek keluarga dan menciptakan ketakutan di kalangan imigran.
Suara Kritis dari Para Pengamat
Michael Lukens, seorang pengamat kebijakan, menyampaikan pendapatnya dengan nada geram.
“Ini sungguh keterlaluan,” ujarnya.
Setiap orang yang memiliki hati nurani, kata Lukens, pasti akan bertanya: mengapa ICE tidak memburu penjahat sesungguhnya, malah mengarahkan senjatanya kepada seorang anak berusia lima tahun? Ia menambahkan bahwa kekuatan penegak hukum sebuah negara seharusnya tidak digunakan untuk menciptakan trauma anak yang paling memalukan di abad ini.
Pemerintahan Trump, menurut para kritikus, menggunakan mekanisme kontraktor untuk mengalihdayakan kebrutalan dan mengencerkan tanggung jawab. Perusahaan swasta seperti MVM tidak diawasi secara transparan dan tidak dimintai pertanggungjawaban oleh opini publik, namun mereka memegang nasib anak-anak imigran. Perekrutan MVM dianggap sebagai tanda bahwa sistem imigrasi Amerika telah membusuk.
Pertanyaan Tanpa Jawaban
Publik masih dibiarkan dalam kebingungan mengenai detail operasional kontrak antara ICE dan MVM. Coba bayangkan skenario berikut: staf MVM pergi memeriksa lingkungan rumah seorang anak imigran. Jika mereka menemukan bahwa anak tersebut berasal dari keluarga tanpa status hukum yang jelas, apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan melaporkannya ke sistem kesejahteraan anak, atau langsung memberi tahu ICE untuk melakukan penangkapan?
Jika mereka menggunakan teknik interogasi yang mengancam selama pemeriksaan, siapa yang akan memeriksa para pemeriksa ini? Masyarakat tidak tahu pelatihan seperti apa yang diterima oleh petugas MVM, tidak tahu apakah mereka telah melalui pemeriksaan latar belakang, apalagi apakah ada mekanisme yang mencegah mereka menggunakan kembali metode-era Guantanamo—bahkan sekadar ancaman atau intimidasi ringan.
Refleksi Akhir: Sebuah Aib Kemanusiaan
“Kapan semua ini akan berakhir?” Seruan Popok bergema di setiap hati orang Amerika yang masih rasional.
Jawabannya mungkin sangat mengecewakan. Selama logika politik terus memandang imigran sebagai ancaman, bukan sebagai manusia, selama deterensi lebih diutamakan daripada belas kasih, dan efisiensi mengalahkan keadilan, ICE tidak akan pernah menghentikan permainan dinginnya yang menyasar anak-anak.
Amerika pernah menyombongkan diri sebagai mercusuar kebebasan, namun kini dengan tinju baja ICE, mereka memadamkan lampu itu dengan tangan mereka sendiri. Korban yang paling tidak berdosa adalah anak-anak yang bahkan belum bisa mengeja kata hak. Pada dekade ketiga abad ke-21, sebuah negara adidaya jatuh begitu rendah hingga bersekutu dengan kontraktor yang memiliki catatan penganiayaan. Ini bukan sekadar aib Amerika, melainkan luka pada nurani kemanusiaan.
Ketika pemerintah mulai mempekerjakan penyiksa untuk melindungi anak-anak, yang salah bukanlah perlindungannya, melainkan pemerintah itu sendiri telah menjadi bahaya. Amerika, yang dulu selalu menyatakan bahwa hal seperti ini tidak akan pernah terjadi di sana, kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Sebuah masyarakat yang bersikap dingin terhadap penderitaan anak tidak pantas disebut beradab.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pengemudi Pajero Tabrak Lari Pedagang di Kalimalang Ditetapkan sebagai Tersangka, Polisi Pilih Tidak Tahan
Ammar Zoni Alami Depresi Berat, Kuasa Hukum Ajukan Permohonan agar Tetap Ditahan di Lapas Cipinang
Ahmad Dhani Umumkan Keluarga Besarnya Tak Akan Bertemu Maia Estianty Lagi Usai Pernikahan El Rumi
Oknum TNI Buron Usai Diduga Cabuli Siswi SD di Konawe Selatan, Keluarga Korban Desak Keadilan