Kebiasaan yang Berujung Maut
Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Kristomei Sianturi mengonfirmasi bahwa kegiatan pemusnahan amunisi memang sudah berjalan sesuai rencana.
Namun ledakan kedua yang tak terduga itulah yang menjadi titik bencana. Ia membenarkan bahwa kebiasaan warga mendekat ke lokasi pasca-ledakan telah berlangsung lama.
"Memang kebiasaan masyarakat di sana datang ke lokasi peledakan untuk mengambil logam sisa munisi. Mungkin karena bisa dikumpulkan lalu dijual. Tapi ini sangat berbahaya," ujar Kristomei dalam keterangan resmi.
Pihak TNI kini tengah melakukan penyelidikan menyeluruh atas tragedi ini, termasuk evaluasi SOP pemusnahan amunisi dan penanganan warga sipil yang mendekat ke zona rawan.
Kristomei menyatakan, ada kemungkinan kelalaian dalam pengamanan perimeter lokasi, atau ketidaksadaran bahwa masih ada bahan peledak aktif yang tersisa.
Tanah tempat ledakan terjadi diketahui merupakan milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Garut, yang rutin dipakai TNI sebagai lokasi pemusnahan karena jauh dari penduduk.
Namun ironisnya, keterpencilan itu justru membuka ruang bagi warga untuk “berburu logam” tanpa pengawasan ketat.
Saat ini, lokasi telah disterilkan, sementara ke-13 jasad korban masih berada di ruang jenazah RSUD Pameungpeuk.
Keluarga korban terus berdatangan, dan duka membalut pesisir selatan yang sebelumnya tenang.
Sumber: TvOne
Artikel Terkait
Profil Eny Retno, Istri Gus Yaqut: 21 Tahun Setia & Latar Belakang IPB
Korupsi Tambang & Sawit Rugikan Negara Rp186,48 Triliun, Pemerintah Gunakan AI
Ustaz Abdul Somad Unggah Penolakan Ceramah oleh Ansor, Bertepatan Gus Yaqut Jadi Tersangka Korupsi Haji
Ayah Prada Lucky Ditangkap TNI: Kronologi KDRT, Penyebab, dan Penjelasan Resmi