MUI Minta KPI Tindak Trans7, Tuduh Tayangan Xpose Uncensored Hina Tradisi Pesantren
Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan respons keras terhadap tayangan program Xpose Uncensored Trans7 yang menampilkan adegan kiai hidup mewah dan santri berjalan jongkok sambil memberikan uang. MUI secara resmi meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk mengambil tindakan tegas terhadap stasiun televisi tersebut.
MUI Nilai Tayangan Tidak Bermutu dan Menghina
Ketua MUI Bidang Infokom, KH Masduki Baidlowi, menyatakan kekecewaannya. Ia menilai tayangan itu tidak profesional, tidak melakukan cover both side, tidak crosscheck, dan sangat tendensius. Masduki menegaskan bahwa tayangan tersebut dinilai telah menyinggung tradisi pesantren dan figur Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH Anwar Manshur.
“Karena ini penyiarannya sangat tendensius. Yang disinggung ini pesantren besar berpengaruh, tokohnya juga pengurus PBNU,” tegas Masduki. Ia menambahkan bahwa tayangan semacam ini berbahaya dan berpotensi memicu tanggapan emosional dari masyarakat jika tidak segera ditindaklanjuti.
Desakan untuk KPI dan Dugaan Motif Tersembunyi
MUI mendesak KPI untuk segera memanggil dan menegur Trans7 beserta seluruh pihak yang bertanggung jawab atas produksi tayangan tersebut. KH Masduki Baidlowi bahkan menduga ada motif ideologis tersembunyi di balik tayangan yang dinilai menghina itu.
“Jangan-jangan yang terlibat memiliki agenda tendensius karena mungkin ada perbedaan-perbedaan pemahaman yang secara ideologis,” jelasnya. Menurutnya, hal semacam ini sangat berbahaya untuk disebarkan di ruang publik.
Trans7 Akhirnya Minta Maaf ke Ponpes Lirboyo
Menanggapi tekanan publik yang semakin besar, Trans7 akhirnya mengeluarkan surat permohonan maaf resmi kepada Pondok Pesantren Lirboyo. Surat bernomor SM/399/25 yang ditandatangani oleh Renny Andhita (Kepala Departemen Programming) dan Andi Chairil (Direktur Produksi) itu menyatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.
Dalam suratnya, Trans7 mengakui adanya kelalaian dan kurang ketelitian dalam proses produksi program Xpose. Mereka berkomitmen untuk menjadikan insiden ini sebagai pembelajaran agar lebih sensitif terhadap nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan lokal di masa depan.
Artikel Terkait
Saksi Melihat Pria Diduga Tinggalkan Bayi di Gerobak Nasi Uduk Pejaten
Kesalahan Perawatan Sehari-hari Jadi Penyebab Utama Kerusakan Lantai Vinyl
Buya Yahya Serukan Persatuan Islam Abaikan Perbedaan Sekte, Fokus Lawan Israel
Polisi Bantah Surat Permintaan THR ke Pengusaha Truk di Tanjung Priok Palsu