Kritik Yudo Sadewa: Sistem Pendidikan Pesantren Dinilai Feodal dan Ajarkan Kepatuhan Buta
Polemik tayangan Trans7 yang dinilai melecehkan Pondok Pesantren Lirboyo memicu beragam tanggapan publik. Sorotan tajam turut datang dari Yudo Sadewa, anak Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengkritik sistem pendidikan di sebagian pesantren.
Melalui unggahan Instagram story-nya pada Rabu, 15 Oktober 2025, Yudo menyoroti budaya feodal dan senioritas yang menurutnya masih kental di lingkungan pesantren, khususnya yang berlokasi di kampung.
Kritik Dimulai dengan Kutipan Hadis
Yudo mengawali kritiknya dengan mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang melarang menundukkan kepala secara berlebihan kepada sesama manusia.
"Rasulullah bersabda: Janganlah seorang hamba menundukkan kepalanya kepada orang lain (dengan rasa hormat yang berlebihan), karena Allah saja yang berhak dipuji dan diagungkan," tulis Yudo, mengutip hadis riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi.
Ia kemudian mengaitkan hadis tersebut dengan realitas yang ia amati, menyatakan, "Tapi kenyataannya di sebagian pesantren (apalagi di kampung) feodal (senioritas) banget."
Pendidikan Agama Dinilai Setengah-Setengah
Kritik Yudo meluas ke sistem pendidikan Indonesia secara umum. Menurutnya, pendidikan di Indonesia, termasuk di pesantren, mengajarkan kepatuhan buta tanpa pemahaman yang mendalam.
"Masalahnya ya pendidikan di Indonesia seperti itu. Di pesantren, belajar agama cuman setengah-setengah," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa di sekolah biasa, guru seringkali mengajarkan ilmu agama tanpa pemahaman mendalam. "Selalu diajarkan untuk patuh tanpa mengetahui mengapa saya harus patuh," lanjut Yudo.
Dampak Kepatuhan Buta di Dunia Kerja
Yudo memperingatkan bahwa budaya patuh tanpa nalar kritis ini berbahaya. Saat memasuki dunia kerja, mentalitas ini dapat membuat seseorang rentan dieksploitasi.
"Ketika kalian sudah patuh, kalian akan dijadikan budak oleh atasan kalian pada saat di dunia kerja," tegasnya.
Solusi: Pentingnya Literasi Finansial
Sebagai penutup, Yudo menekankan pentingnya literasi finansial dan investasi sebagai jalan keluar. Tanpa pemahaman ini, seseorang berisiko terjebak dalam siklus kerja tanpa henti yang mengabaikan ibadah dan keluarga.
"Tanpa literasi finansial yang jelas dan investasi, Anda justru meninggalkan ibadah wajib dan waktu bersama keluarga. Lalu, Anda kerja terus sampai mati," pungkas anak Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tersebut.
Artikel Terkait
Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Picu Perdebatan Norma di Media Sosial
Pemuda Tewas Dibunuh di Kamar Penginapan Medan, Jenazah Dibuang ke Sungai
Polisi Usut Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, DPR Desak Penanganan sebagai Percobaan Pembunuhan
Menteri Keuangan Buka Opsi Naikkan Batas Defisit APBN di Atas 3 Persen