PARADAPOS.COM - Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, dengan laporan bahwa pasukan AS berada dalam status siaga penuh dan bersiap untuk kemungkinan operasi militer dalam waktu dekat. Peningkatan tensi ini ditandai dengan pengerahan aset strategis, termasuk kapal induk USS Gerald Ford, ke kawasan yang rawan, sementara Iran dikabarkan memperkuat pertahanan di sekitar fasilitas nuklirnya. Situasi genting ini mengingatkan pada sejarah panjang konfrontasi bersenjata antara kedua negara, yang puncaknya pernah terjadi lebih dari tiga dekade lalu.
Kesiapan Militer dan Pengerahan Aset Strategis
Menanggapi dinamika yang berkembang, Pentagon dilaporkan telah meningkatkan kesiapan tempur pasukannya. Opsi serangan, menurut sejumlah analisis, dapat dijalankan dalam rentang waktu yang relatif singkat. Salah satu indikator nyata dari kesiapan ini adalah pergerakan kapal induk USS Gerald Ford, yang merupakan salah satu kapal perang paling mutakhir dalam armada AS, menuju kawasan yang menjadi fokus ketegangan. Di sisi lain, pemerintah Iran tampaknya tidak tinggal diam. Respons Teheran terlihat dari upaya memperketat pengamanan di situs-situs sensitif, menunjukkan antisipasi terhadap berbagai kemungkinan skenario.
Kilas Balik: Operation Praying Mantis 1988
Jika konflik terbuka benar-benar terulang, ini bukanlah episode pertama bagi kedua negara. Hubungan yang sudah lama bermusuhan ini pernah memuncak dalam sebuah pertempuran laut besar pada era 1980-an. Awal mula konflik tersebut adalah insiden pada 14 April 1988, ketika sebuah fregat Angkatan Laut AS, USS Samuel B. Roberts, terkena ranjau laut yang dipasang Iran di perairan internasional dekat Qatar. Ledakan dahsyat itu menyebabkan kerusakan parah pada kapal dan melukai sejumlah awak, nyaris membuatnya tenggelam.
Insiden itu memicu reaksi keras dari Gedung Putih. Presiden Ronald Reagan, kala itu, memberikan perintah untuk melakukan pembalasan militer. Empat hari setelah insiden ranjau, tepatnya pada 18 April 1988, Amerika Serikat melancarkan operasi balasan yang masif, yang diberi kode Operation Praying Mantis.
Skala Pertempuran yang Luar Biasa
Meski target awal adalah fasilitas minyak dan kapal perang Iran, AS mengerahkan kekuatan tempur dalam skala yang sangat besar. Armada yang dikerahkan termasuk kapal induk USS Enterprise, didukung oleh sejumlah kapal perang permukaan, jet tempur, dan helikopter serang. Pengerahan kekuatan sedemikian rupa mencatatkan operasi ini sebagai pertempuran laut terbesar yang melibatkan Angkatan Laut AS sejak berakhirnya Perang Dunia II.
"Angkatan Laut AS memulai aksi perang permukaan terbesarnya sejak Perang Dunia II," tulis buku U.S Marines in the Gulf War, 1990-1991: Liberating Kuwait (2014), menggambarkan betapa signifikannya operasi tersebut.
Jalannya Pertempuran dan Akhir Konflik
Serangan pembuka dilancarkan terhadap anjungan minyak Iran di Laut Arab, yang berhasil dilumpuhkan dan terbakar. Iran membalas dengan mengerahkan pesawat tempur dan kapal perangnya untuk menyerang armada AS serta kapal-kapal komersial yang dikawal, namun serangan balasan ini tidak berhasil mendobrak pertahanan AS. Pertempuran mencapai klimaksnya ketika fregat Iran, Sabalan, terlibat kontak tembak.
Dalam pertempuran sengit itu, Sabalan menjadi sasaran rudal dan serangan presisi dari pasukan AS. Kapal tersebut mengalami kerusakan berat dan terbakar hebat. Melihat tujuan pembalasan telah tercapai, Presiden Reagan kemudian memerintahkan penghentian operasi. Pertempuran berakhir dengan AS menarik pasukannya, sementara Iran harus menelan pil pahit kekalahan dengan kerugian material yang besar dan posisi geopolitik yang semakin terpojok.
Bayang-Bayang Sejarah dan Ketegangan Kini
Sejak peristiwa tahun 1988 itu, hubungan Washington dan Teheran terus diwarnai saling curiga dan insiden-insiden yang nyaris memicu konflik. Pola eskalasi yang diikuti dengan perhitungan strategis yang ketat tampaknya masih berlaku hingga kini. Meningkatnya tensi dalam beberapa hari terakhir, yang ditandai dengan persiapan militer dari kedua belah pihak, seolah mengajak dunia mengingat kembali pelajaran dari sejarah. Para pengamat konflik dengan cermat memperhatikan perkembangan ini, memahami bahwa di balik pernyataan dan pergerakan pasukan, terdapat perhitungan yang rumit untuk mencegah eskalasi yang tidak terkendali, sekaligus mempertahankan kepentingan nasional masing-masing.
Artikel Terkait
Iran Ancam Balas AS Lewat PBB Jika Serangan Militer Dilancarkan
Video Trump Memejamkan Mata di Forum Perdamaian Picu Sorotan Kebugaran
Trump Beri Ultimatum 10 Hari ke Iran: Kesepakatan atau Eskalasi Militer
AS Siapkan Serangan ke Iran, Keputusan Akhir Tunggu Persetujuan Trump